Kajian Militer

Ceasefire atau Armistice antara Amerika Serikat dan Iran: Kronologi, Mekanisme Negosiasi, dan Skenario Strategis Pasca-Eskalasi April 2026

Operator Kodim 0602/Serang
15 menit baca
Ceasefire atau Armistice antara Amerika Serikat dan Iran: Kronologi, Mekanisme Negosiasi, dan Skenario Strategis Pasca-Eskalasi April 2026

Oleh: Kolonel Arm Oke Kistiyanto

Abstrak

Artikel ini menganalisis jeda tempur dua minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada 7–8 April 2026 dengan tiga tujuan: pertama, menentukan apakah pengaturan tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai ceasefire atau armistice; kedua, menjelaskan mekanisme negosiasi yang melahirkannya; dan ketiga, menilai dampak strategis serta skenario perkembangan paling mungkin dan paling buruk. Fakta publik yang terverifikasi menunjukkan bahwa AS menunda pengeboman terhadap Iran selama dua minggu setelah mediasi Pakistan, dengan isu sentral berupa pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembicaraan lanjutan di Islamabad. Namun, implementasi kesepakatan tersebut segera dihadapkan pada ambiguitas ruang lingkup, terutama terkait Lebanon, sehingga secara analitis pengaturan ini lebih tepat dipahami sebagai temporary coercive ceasefire daripada armistice yang mapan. Secara teoretis, artikel ini menggunakan konsep ripeness dari I. William Zartman, teori koersi yang berakar pada Thomas Schelling, dan bargaining theory of war dari James Fearon dan Robert Powell. Temuan utama menunjukkan bahwa jeda tempur lahir bukan dari penyelesaian konflik, melainkan dari situasi mutually hurting stalemate yang dipercepat oleh biaya energi global, ancaman eskalasi regional, dan kebutuhan membuka jalur maritim strategis. Skenario paling mungkin adalah gencatan senjata rapuh yang memungkinkan negosiasi terbatas; sedangkan skenario paling buruk adalah kolapsnya implementasi dan kembalinya perang berlapis di Teluk dan Lebanon.

Kata kunci: ceasefire, armistice, Amerika Serikat, Iran, Selat Hormuz, coercive diplomacy, strategic studies, bargaining theory.

1. Pendahuluan

Perubahan cepat dari ancaman eskalasi menuju jeda tempur antara AS dan Iran pada 7–8 April 2026 menunjukkan bahwa perang modern dapat bergeser dari logika penghancuran ke logika tawar-menawar dalam waktu yang sangat singkat. Reuters melaporkan bahwa Presiden Donald Trump menyetujui penangguhan pengeboman terhadap Iran selama dua minggu setelah menerima proposal yang dimediasi Pakistan, sementara Iran menyatakan akan memasuki pembicaraan dengan “sangat hati-hati” karena tingkat ketidakpercayaan yang tinggi terhadap Washington. Pada saat yang sama, Perserikatan Bangsa-Bangsa menegaskan bahwa syarat implementasi ceasefire masih harus dirumuskan para pihak, yang berarti penghentian kekerasan belum identik dengan penyelesaian politik.

Masalah konseptual utama dalam kasus ini adalah pembedaan antara ceasefire dan armistice. Secara hukum humaniter, ICRC menjelaskan bahwa armistice adalah perjanjian yang menangguhkan permusuhan aktif, tetapi tidak otomatis mengakhiri keadaan perang; sedangkan dalam praktik kontemporer, ceasefire lebih sering merujuk pada penghentian atau penangguhan kekerasan untuk membuka ruang negosiasi politik. Karena pengaturan AS–Iran ini hanya berlaku dua minggu, rincian pelaksanaannya belum final, dan tafsir ruang lingkupnya masih diperselisihkan, maka kategorisasi sebagai ceasefire lebih presisi daripada armistice.

Artikel ini berargumen bahwa jeda tempur April 2026 sebaiknya dibaca sebagai temporary coercive ceasefire: suatu jeda yang lahir dari tekanan timbal balik, bukan dari rekonsiliasi strategis. Karena itu, analisis tidak cukup berhenti pada kronologi berita, tetapi harus masuk ke mekanisme negosiasi, distribusi leverage, masalah komitmen kredibel, peran pihak ketiga, dan kemungkinan eskalasi balik di teater lain seperti Lebanon.

2. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teoretis

Kerangka pertama adalah konsep ripeness dari I. William Zartman. Inti konsep ini adalah bahwa negosiasi menjadi mungkin ketika para pihak memersepsikan diri berada dalam mutually hurting stalemate dan sekaligus melihat adanya way out. Zartman menekankan bahwa yang menentukan bukan hanya realitas objektif kebuntuan, tetapi juga persepsi para pihak bahwa melanjutkan konflik akan semakin mahal sementara tersedia jalan keluar yang cukup masuk akal. Kerangka ini sangat relevan untuk menjelaskan mengapa negosiasi AS–Iran muncul justru di bawah ancaman eskalasi maksimum.

Kerangka kedua adalah teori koersi yang dibangun oleh Thomas Schelling dan dijelaskan kembali secara sistematik oleh Tami Davis Biddle. Teori ini memandang kekerasan modern bukan hanya sebagai instrumen penghancuran, tetapi sebagai alat untuk memengaruhi keputusan lawan melalui ancaman yang kredibel. Biddle, dengan bertumpu pada Schelling, menegaskan bahwa koersi sangat sulit, tidak linear, dan jarang menghasilkan kepatuhan yang bersih. Dalam konteks AS–Iran, ancaman pengeboman lanjutan dari AS dan kemampuan Iran mengganggu salah satu jalur energi terpenting dunia menunjukkan interaksi koersif dua arah yang akhirnya melahirkan jeda tempur, bukan kemenangan mutlak salah satu pihak.

Kerangka ketiga adalah bargaining theory of war. Fearon menjelaskan bahwa perang, walaupun mahal dan tidak efisien secara ex post, tetap dapat terjadi akibat informasi tidak sempurna, insentif untuk menyesatkan, masalah komitmen kredibel, dan isu yang dipersepsikan sulit dibagi. Powell kemudian memperdalam bahwa masalah komitmen sering kali menjadi akar utama kegagalan penyelesaian damai. Dalam kasus AS–Iran, faktor ini terlihat sangat jelas: Iran menyatakan tidak percaya pada niat jangka panjang AS, sementara Israel, AS, dan Iran tidak sepenuhnya memiliki tafsir yang sama mengenai ruang lingkup jeda tempur. Dengan demikian, jeda dua minggu ini bukan penghapusan sebab perang, melainkan pembukaan fase tawar-menawar baru di bawah bayang-bayang ketidakpercayaan.

Sebagai lensa tambahan, karya Michael Taillard mengenai ekonomi perang modern membantu menjelaskan bahwa dalam konflik kontemporer, pengaruh terhadap distribusi energi, perdagangan, dan ekspektasi pasar dapat memiliki nilai strategis yang hampir setara dengan kemenangan taktis. Relevansi Taillard dalam kasus ini terletak pada fungsi Selat Hormuz sebagai strategic chokepoint yang menjadikan perang bukan hanya persoalan domain militer, tetapi juga persoalan sirkulasi kapital, persepsi risiko, dan biaya sistemik global.

3. Metode Penelitian

Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif-analitis berbasis process tracing terbatas terhadap perkembangan 7–8 April 2026. Data kontemporer diambil dari Reuters dan Associated Press karena keduanya menyediakan pelaporan cepat, relatif konsisten, dan dapat dibandingkan lintas sudut pandang. Data teoritis diperoleh dari karya Zartman, Fearon, Powell, Schelling/Biddle, dan Taillard. Analisis dilakukan dengan membagi bahan ke dalam tiga lapis: fakta publik terverifikasi, klaim yang belum terkonfirmasi, dan inferensi analitis. Pemisahan ini penting agar naskah akademik tidak mencampurkan klaim tempur atau narasi media partisan dengan fakta yang telah memiliki penopang sumber yang memadai.

4. Kronologi Singkat Perkembangan April 2026

Fakta publik menunjukkan bahwa konflik yang sedang dibahas telah berlangsung selama sekitar enam minggu sebelum jeda tempur diumumkan. Reuters melaporkan bahwa perang dimulai pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel menyerang Iran, lalu berkembang menjadi konflik regional yang mengganggu pasokan energi global dan menutup atau membatasi arus normal di Selat Hormuz. Dalam fase ini, ancaman militer, tekanan ekonomi, dan risiko perluasan perang menjadi saling bertumpuk.

Menjelang 7 April 2026, Trump menetapkan tenggat agar Iran membuka kembali Selat Hormuz, disertai ancaman respons yang jauh lebih keras apabila hal itu tidak dilakukan. Associated Press melaporkan bahwa sekitar 90 menit sebelum tenggat berakhir, Trump berbalik menerima gencatan senjata dua minggu setelah mediasi Pakistan, dengan China juga disebut berperan dalam proses de-eskalasi. Pada titik ini, pembukaan kembali Hormuz menjadi katalis langsung yang memungkinkan penghentian sementara serangan besar.

Pada 8 April 2026, diplomat Iran menyatakan bahwa Teheran akan memasuki pembicaraan di Islamabad secara sangat hati-hati, bahwa lalu lintas kapal dapat dibuka secara terbatas dan terkendali, dan bahwa koordinasi dengan militer Iran akan tetap menjadi elemen penting. Pada hari yang sama, PBB menegaskan bahwa implementasi ceasefire masih harus dinegosiasikan. Ini menandakan bahwa pengumuman politik sudah ada, tetapi rezim operasionalnya belum final.

Friksi langsung muncul pada isu Lebanon. Reuters dan AP melaporkan bahwa Israel menerima jeda dua minggu terhadap Iran, tetapi menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk di dalamnya. Sementara itu, serangan Israel terhadap Beirut dan wilayah Lebanon lainnya tetap berlanjut dengan korban yang besar. Fakta ini menunjukkan bahwa ceasefire tersebut tidak menutup keseluruhan ekosistem konflik, melainkan hanya membekukan sebagian teater tempur.

5. Hasil dan Pembahasan

5.1. Dari Eskalasi Menuju Mutually Hurting Stalemate

Kemunculan jeda tempur ini paling masuk akal dijelaskan melalui konsep mutually hurting stalemate. AS menghadapi risiko bahwa eskalasi lanjutan tidak hanya memerlukan biaya militer, tetapi juga menimbulkan tekanan sistemik pada jalur energi global. Reuters melaporkan bahwa sekitar 20% ekspor minyak dunia melewati Hormuz dan bahwa ratusan kapal tanker membawa sekitar 130 juta barel minyak mentah serta 46 juta barel produk bahan bakar tertahan akibat konflik. Secara bersamaan, pasar minyak bereaksi tajam terhadap pengumuman ceasefire, dengan harga minyak jatuh dan pasar saham global reli. Ini menunjukkan bahwa perang telah melampaui level konflik bilateral dan masuk ke ranah biaya internasional yang sangat besar.

Bagi Iran, melanjutkan konfrontasi terbuka juga mengandung biaya yang tinggi. Namun, berbeda dengan asumsi bahwa jeda tempur identik dengan pelemahan posisi Iran, fakta publik justru menunjukkan bahwa Teheran tetap mempertahankan leverage penting: kontrol atas ritme pembukaan Hormuz dan kemampuan untuk mensyaratkan koordinasi keamanan. Dalam bahasa negosiasi, Iran tidak datang ke meja perundingan sebagai pihak tanpa alat tekan; ia datang setelah berhasil memastikan bahwa isu paling sensitif bagi ekonomi global tidak dapat diselesaikan tanpa keterlibatannya. Inilah yang menjadikan jeda tempur ini sebagai kompromi koersif, bukan kapitulasi sepihak.

Konsep Zartman membantu menjelaskan mengapa justru pada momen puncak ancaman inilah negosiasi menjadi mungkin. Para pihak tidak perlu menyepakati siapa yang kalah atau siapa yang menang untuk memasuki ripe moment; cukup dengan menyadari bahwa eskalasi lanjutan semakin mahal dan tersedia jalan keluar yang sementara dapat diterima. Dengan demikian, jeda tempur ini tidak menandakan hilangnya konflik, melainkan pergeseran medium konflik dari ranah kinetik ke ranah tawar-menawar.

5.2. Mengapa Ini Ceasefire, Bukan Armistice

Secara akademik, istilah armistice mengandung asumsi adanya struktur penghentian permusuhan yang lebih terdefinisi, baik dari segi ruang lingkup, pihak yang terikat, maupun rezim implementasinya. Dalam kasus ini, syarat-syarat tersebut belum terpenuhi. PBB secara eksplisit menyatakan bahwa rincian implementasi ceasefire masih harus dinegosiasikan para pihak, sementara laporan Reuters dan AP menunjukkan bahwa Lebanon segera menjadi objek perselisihan interpretatif. Bila ruang operasi yang dicakup kesepakatan saja belum memiliki definisi yang stabil, maka penggunaan istilah armistice akan terlalu maju dibanding fakta yang tersedia.

Ada alasan tambahan yang lebih substantif. Armistice umumnya mengandaikan adanya setidaknya kerangka operasional bersama untuk mengelola penghentian permusuhan. Sebaliknya, pada kasus ini, yang tampak justru adalah pengurangan serangan besar AS terhadap Iran tanpa penghentian menyeluruh atas jaringan konflik kawasan. Oleh karena itu, istilah yang paling tepat adalah temporary coercive ceasefire: jeda terbatas, lahir di bawah tekanan, dan masih dibebani ketidakjelasan implementasi.

5.3. Selat Hormuz sebagai Pusat Gravitasi Strategis

Selat Hormuz merupakan pusat gravitasi strategis dari keseluruhan episode ini. Reuters melaporkan bahwa jalur ini menangani sekitar seperlima ekspor minyak dunia, sementara AP menegaskan bahwa sengketa mengenai akses dan biaya lintas menjadi inti ketegangan baru bahkan setelah jeda tempur diumumkan. Dari sudut strategic studies, siapa yang mengendalikan ritme normalisasi Hormuz memegang tuas atas tiga hal sekaligus: biaya ekonomi perang, legitimasi internasional, dan persepsi kemenangan.

Dalam teori koersi, nilai strategis Hormuz justru terletak pada kemampuannya menghubungkan ancaman terbatas dengan dampak sistemik yang sangat besar. Iran tidak perlu menghancurkan lawan untuk menimbulkan tekanan; cukup dengan menciptakan ketidakpastian di chokepoint tersebut, maka beban diplomatik, ekonomi, dan militer lawan akan melonjak. Sebaliknya, bagi AS, membuka kembali selat itu menjadi ukuran keberhasilan politik yang dapat diklaim sebagai “victory”. Bahwa kedua pihak sama-sama mengaitkan legitimasi mereka dengan Hormuz menunjukkan bahwa domain maritim telah berubah menjadi inti tawar-menawar strategis.

Lensa Taillard memperkuat pembacaan ini. Dalam ekonomi perang modern, gangguan terhadap sirkulasi komoditas strategis dapat memproduksi efek geopolitik yang melampaui hasil taktis medan tempur. Hormuz adalah contoh konkret dari logika tersebut: ia mengubah konflik dari persoalan militer bilateral menjadi persoalan biaya global. Dengan demikian, fungsi utama Hormuz dalam kasus ini bukan sekadar ruang laut yang disengketakan, tetapi instrumen negosiasi tingkat strategis.

5.4. Peran Pakistan dan Mediasi Berlapis

Reuters dan AP sama-sama menunjukkan bahwa Pakistan adalah mediator utama jeda tempur, dengan Islamabad disiapkan sebagai lokasi pembicaraan lanjutan. AP juga menyebut peran China dalam membantu de-eskalasi. Dalam studi negosiasi, mediasi berlapis seperti ini lazim muncul ketika konflik sudah terlalu kompleks untuk ditangani satu kanal tunggal. Pakistan memiliki keunggulan karena relatif dapat diterima Washington, tetapi juga masih memiliki nilai akses untuk Teheran. Peran China menambah bobot jaminan politik bagi Iran, terutama ketika kepercayaan terhadap komitmen AS sangat rendah.

Akan tetapi, mediasi berlapis juga mengandung kerentanan. Semakin banyak aktor yang terlibat, semakin besar kemungkinan munculnya perbedaan tafsir tentang hasil akhir yang dianggap dapat diterima. Mediasi multipel dapat menghasilkan way out, tetapi tidak otomatis menghasilkan common end-state. Pada kasus ini, ketegangan antara tafsir Pakistan, posisi Israel, dan sikap Iran terhadap Lebanon menunjukkan bahwa mediasi berhasil membuka pintu, tetapi belum berhasil mempersatukan peta jalan implementasi.

5.5. Masalah Komitmen Kredibel sebagai Titik Lemah Utama

Masalah paling serius yang membayangi daya tahan ceasefire ini adalah commitment problem. Reuters mengutip diplomat Iran yang secara terbuka menyatakan bahwa Teheran akan mendekati pembicaraan dengan “great caution” karena deep mistrust. Dalam kerangka Fearon dan Powell, situasi semacam ini sangat berbahaya karena perdamaian tidak gagal hanya karena tuntutan berbeda, tetapi karena para pihak meragukan bahwa konsesi hari ini tidak akan dieksploitasi lawan besok.

Masalah komitmen itu bekerja pada sedikitnya tiga level. Pada level bilateral, Iran tidak yakin bahwa penundaan serangan AS akan bertahan jika negosiasi buntu. Pada level regional, berlanjutnya operasi Israel di Lebanon menimbulkan pertanyaan apakah Washington sungguh mampu atau bersedia menahan sekutunya. Pada level operasional maritim, belum adanya rezim final tentang koordinasi pelayaran, kontrol keamanan, dan kemungkinan biaya lintas menciptakan ruang besar bagi insiden. Dengan demikian, ceasefire ini rapuh bukan hanya karena konflik belum selesai, tetapi karena rantai jaminan pelaksanaannya masih pendek dan mudah putus.

5.6. Lebanon sebagai Spoiler Front

Kesalahan analitis yang sering terjadi adalah memandang Lebanon sebagai isu terpisah dari jeda tempur AS–Iran. Padahal, front Lebanon dapat berfungsi sebagai spoiler front yang merusak keseluruhan proses. Reuters melaporkan bahwa Israel menerima jeda dua minggu terhadap Iran, tetapi secara eksplisit mengecualikan Lebanon. AP pada saat yang sama melaporkan bahwa serangan Israel di Beirut dan wilayah lain tetap berlangsung dengan korban besar. Kondisi ini berarti bahwa bahkan ketika poros utama AS–Iran memasuki jeda, salah satu sumbu konflik regional tetap aktif dan berpotensi menyalakan kembali eskalasi.

Dari sudut pandang Iran, sulit memisahkan Lebanon sepenuhnya dari konflik yang lebih luas karena posisi Hizbullah terkait erat dengan ekosistem deterrence regional Teheran. Dari sudut pandang Israel, memisahkan keduanya justru memberi ruang untuk melanjutkan tekanan terhadap ancaman yang dianggap paling langsung. Pertentangan ini berarti bahwa ceasefire April 2026 sejak awal mengandung masalah struktural: ia menghentikan sebagian perang, tetapi belum menetapkan apakah perang lain yang saling terhubung juga harus berhenti. Selama persoalan ini tidak dipecahkan, front Lebanon akan tetap menjadi pemicu paling realistis bagi pecahnya kembali kesepakatan.

5.7. Politik Persepsi dan Narasi Kemenangan

Menarik bahwa semua pihak berupaya membangun narasi kemenangan. Reuters melaporkan bahwa Trump menyebut hasil tersebut sebagai “total and complete victory”, sementara pejabat Iran menggambarkannya sebagai bukti salah hitung lawan dan kemenangan strategis Iran. Dalam studi perang, keberadaan narasi kemenangan ganda biasanya bukan tanda bahwa perang sudah selesai, melainkan justru tanda bahwa strategic closure belum tercapai. Masing-masing pihak masih membutuhkan legitimasi domestik dan posisi tawar di meja runding, sehingga pertempuran naratif terus berlanjut walau serangan utama ditangguhkan.

Secara akademik, karena itu, klaim “Iran menang telak” atau “AS menang total” harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Fakta publik mendukung bahwa kedua pihak sama-sama memperoleh sesuatu: AS memperoleh jeda dan peluang membuka kembali Hormuz; Iran mempertahankan peran sentralnya atas pengaturan keamanan selat dan memaksa lawan berunding. Akan tetapi, belum ada dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa salah satu pihak telah mencapai penyelesaian strategis final. Yang tersedia saat ini adalah kompromi sementara di bawah tekanan timbal balik.

5.8. Dari War Termination ke Competitive Pause

Secara konseptual, perkembangan April 2026 lebih tepat dibaca sebagai competitive pause daripada war termination. Permusuhan utama diturunkan intensitasnya, tetapi instrumen koersi, ketidakpercayaan, dan front sekunder tetap aktif. Dalam istilah strategic studies, perang tidak selesai; ia hanya bergeser dari kinetic contest menuju bargaining contest. Pusat gravitasinya berpindah dari volume serangan ke pertanyaan mengenai siapa yang mampu mengonversi posisi tempur menjadi keuntungan institusional dan politik pada perundingan Islamabad.

Konsekuensinya, stabilitas jangka pendek dapat menipu. Reaksi positif pasar terhadap ceasefire tidak sama dengan pemulihan struktural. AP dan Reuters menunjukkan bahwa lalu lintas maritim belum sepenuhnya normal dan bahwa tafsir atas syarat-syarat damai masih diperselisihkan. Oleh karena itu, jeda tempur ini harus dipahami sebagai transisi yang sangat rapuh, bukan sebagai akhir dari krisis.

6. Skenario Strategis Ke Depan

Skenario paling mungkin adalah bertahannya gencatan senjata yang rapuh dalam jangka pendek, cukup lama untuk memungkinkan pembicaraan Islamabad berlangsung, tetapi tanpa penyelesaian menyeluruh atas Lebanon, sanksi, dan pengaturan final Hormuz. Skenario ini paling sesuai dengan fakta bahwa semua pihak memiliki insentif kuat untuk menahan eskalasi besar, tetapi belum memiliki fondasi kepercayaan yang cukup untuk perdamaian komprehensif.

Skenario menengah adalah coercive renegotiation. Dalam skenario ini, ceasefire tetap bertahan secara nominal, tetapi tekanan berlanjut melalui front Lebanon, ancaman maritim, sanksi ekonomi, operasi informasi, dan perang persepsi. Ini konsisten dengan teori koersi: penghentian serangan besar tidak menghentikan paksaan, melainkan memindahkannya ke medium lain.

Skenario paling buruk adalah kolapsnya implementasi akibat satu atau beberapa pemicu berikut: serangan besar baru di Lebanon, insiden pelayaran di Hormuz, atau kegagalan menyepakati syarat yang dianggap Iran sebagai minimum keamanan. Dalam skenario ini, perang dapat kembali memasuki fase eskalasi maritim-energi dengan implikasi global yang lebih berat daripada sebelumnya. Reuters dan AP sama-sama menunjukkan bahwa bahkan setelah ceasefire, salah satu front utama tetap aktif dan interpretasi perjanjian tetap bertabrakan, sehingga risiko ini bukan hipotesis abstrak, melainkan kemungkinan nyata.

7. Kesimpulan

Jeda tempur AS–Iran pada April 2026 secara analitis lebih tepat diklasifikasikan sebagai temporary coercive ceasefire daripada armistice. Ia lahir dari situasi mutually hurting stalemate yang dipercepat oleh biaya energi global, kerentanan Selat Hormuz, dan ancaman perluasan perang kawasan. Namun, ia tetap sangat rapuh karena dibebani oleh masalah komitmen kredibel, ambiguitas ruang lingkup, dan berlanjutnya front Lebanon. Kerangka Zartman menjelaskan mengapa negosiasi menjadi mungkin; Schelling/Biddle menjelaskan mengapa ancaman dan kompromi dapat berjalan bersamaan; sedangkan Fearon dan Powell menjelaskan mengapa penghentian serangan tidak otomatis menyelesaikan sebab perang. Dengan demikian, perkembangan April 2026 bukan akhir konflik, melainkan perubahan fase konflik: dari kontestasi kinetik menuju kontestasi negosiasi di bawah bayang-bayang eskalasi ulang.

Serang, 9 April 2026

-Oke02-

Daftar Pustaka

Biddle, T. D. (2020). Coercion Theory: A Basic Introduction for Practitioners. Texas National Security Review.

Fearon, J. D. (1995). Rationalist Explanations for War. International Organization, 49(3), 379–414.

International Committee of the Red Cross. Glossary: Armistice/Ceasefire.

Powell, R. (2006). War as a Commitment Problem. International Organization.

Reuters. Iran to approach peace talks with US with caution, Iranian ambassador to UN says (8 April 2026).

Reuters. UN envoy in Iran to support ‘durable’ end to conflict (8 April 2026).

Reuters. Iran could open Strait of Hormuz in a controlled way ahead of meeting with US, senior Iranian official says (8 April 2026).

Reuters. Trump says US won ‘total and complete victory’ after ceasefire deal with Iran (8 April 2026).

Reuters. Trump says US will help with traffic buildup in Strait of Hormuz (8 April 2026).

Reuters. Israel backs Trump’s two-week pause on Iran strikes, says Lebanon excluded (8 April 2026).

Associated Press. How Trump went from threatening Iran’s annihilation to agreeing to a 2-week ceasefire with Tehran (8 April 2026).

Associated Press. The Latest: Iran closes the Strait of Hormuz in response to Israeli attacks on Lebanon (8 April 2026).

Taillard, M. Economics and Modern Warfare. Palgrave Macmillan.

Zartman, I. W. (2001). The Timing of Peace Initiatives: Hurting Stalemates and Ripe Moments.


Komentar

Format: 08123456789 atau +628123456789
0 / 5000

Memuat pertanyaan...

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui penyimpanan nama, nomor WhatsApp, dan alamat IP untuk moderasi.