Kajian Militer

Dari Donbas ke Hormutz: Perang Energi, Keausan Hegemoni Barat, dan Masa Depan Tatanan Ekonomi Global dalam Tekanan Ganda Iran–Israel dan Rusia–Ukraina

Operator Kodim 0602/Serang
17 menit baca
Dari Donbas ke Hormutz: Perang Energi, Keausan Hegemoni Barat, dan Masa Depan Tatanan Ekonomi Global dalam Tekanan Ganda Iran–Israel dan Rusia–Ukraina

Kolonel Arm Oke Kistiyanto

Abstrak

Artikel ini menganalisis bagaimana perang Iran–Israel yang memanas pada Maret 2026, ketika bertemu dengan tekanan berkepanjangan perang Rusia–Ukraina, membentuk konfigurasi baru economic warfare terhadap Eropa dan Amerika Serikat. Argumen utama tulisan ini adalah bahwa yang sedang terjadi bukan “kehancuran instan” ekonomi Barat, melainkan erosi relatif yang dipercepat melalui empat saluran utama: shock energi, tekanan inflasi dan suku bunga, penyempitan ruang fiskal, serta pembengkakan biaya hegemoni.

Dalam perspektif Michael Taillard, perang modern bekerja bukan hanya lewat penghancuran militer, tetapi juga lewat manipulasi biaya, pasokan, distribusi, dan ekspektasi pasar. Tulisan ini menunjukkan bahwa Eropa adalah ruang yang paling rentan karena ketergantungan energi impor, mahalnya transisi pasca-Rusia, dan sempitnya ruang subsidi baru; sedangkan Amerika Serikat lebih tangguh secara moneter dan energi, tetapi semakin terbebani oleh ongkos memimpin dua teater strategis sekaligus.

Di sisi lain, dominasi dolar belum runtuh; bahkan dalam fase awal krisis dolar tetap menguat sebagai safe haven. Namun, perang ganda ini mempercepat redistribusi daya tawar geokonomi ke arah aktor-aktor yang memiliki kedalaman energi, kapasitas industri, dan fleksibilitas diplomatik lebih besar.

Kesimpulannya, perang Iran–Israel dan Rusia–Ukraina secara bersama-sama tidak otomatis menjatuhkan Barat, tetapi nyata-nyata meningkatkan biaya mempertahankan dominasi Barat dan mempercepat transisi menuju tatanan yang lebih multipolar.

Pendahuluan

Perang modern semakin memperlihatkan bahwa pusat penentu kemenangan tidak selalu berada pada penghancuran pasukan lawan di medan tempur, tetapi pada kemampuan memaksa lawan menanggung biaya sistemik yang terus meningkat. Dalam konteks ini, perang Iran–Israel pada Maret 2026 tidak dapat dibaca semata sebagai krisis regional Timur Tengah. Serangan terhadap simpul energi, ancaman terhadap Selat Hormuz, gangguan terhadap LNG Qatar, dan reaksi pasar minyak serta bank sentral menunjukkan bahwa ekonomi global telah menjadi bagian integral dari ruang tempur. Reuters melaporkan harga Brent melonjak di atas US$115 per barel setelah serangan terhadap aset energi kawasan, sementara kerusakan pada Ras Laffan dan ancaman terhadap aliran energi Teluk memicu kekhawatiran besar terhadap pasokan minyak dan gas dunia.

Namun, perang Iran–Israel datang pada saat Eropa dan Amerika Serikat belum pulih penuh dari tekanan perang Rusia–Ukraina. Eropa sejak 2022 telah dipaksa merekonstruksi arsitektur energinya, menanggung subsidi besar, dan menaikkan belanja pertahanan. Amerika Serikat, meskipun lebih tahan secara energi, harus menopang aliansi dan pembiayaan keamanan di Eropa Timur sekaligus menjaga kredibilitas keamanannya di Timur Tengah. Karena itu, analisis yang tepat tidak boleh berdiri pada asumsi satu krisis tunggal, tetapi harus melihat akumulasi tekanan dua perang yang saling memperkuat. Reuters menegaskan bahwa pemerintah Eropa kini memiliki ruang fiskal jauh lebih sempit dibanding krisis energi 2022, sementara dukungan kepada Ukraina dan meningkatnya belanja pertahanan tetap berjalan.


Dalam kerangka teoritis, tulisan ini bertumpu pada tiga landasan. Pertama, konsep economic warfare Michael Taillard, yang melihat instrumen ekonomi sebagai sarana mencapai efek strategis dan militer. Kedua, teori negative supply shock dan stagflasi, yang menjelaskan bagaimana gangguan energi dapat mendorong inflasi sekaligus menekan pertumbuhan. Ketiga, teori hegemoni dan transisi sistemik, yang menilai bahwa dominasi global tidak jatuh seketika hanya karena satu krisis, tetapi terkikis melalui meningkatnya biaya mempertahankan tatanan yang ada.

Kerangka ini penting karena banyak narasi populer bergerak terlalu cepat dari “kenaikan harga energi” ke “runtuhnya Barat”, tanpa menimbang kapasitas adaptasi, kekuatan moneter, dan ketahanan institusional yang masih dimiliki AS dan sekutunya.

Rumusan Masalah

Tulisan ini berangkat dari empat pertanyaan pokok. Pertama, bagaimana perang Iran–Israel dan perang Rusia–Ukraina bekerja sebagai tekanan ekonomi ganda terhadap Eropa dan Amerika Serikat? Kedua, mengapa Eropa tampil sebagai wilayah yang paling rentan terhadap shock ini? Ketiga, apakah dominasi ekonomi dan moneter Amerika Serikat benar-benar memasuki fase keruntuhan, atau justru memasuki fase pembengkakan biaya hegemoni? Keempat, bagaimana arah perkembangan ke depan: apakah dunia sedang menuju kehancuran ekonomi Barat, atau menuju pergeseran hegemoni yang lebih lambat namun struktural?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena penilaian strategis yang salah dapat menghasilkan pembacaan ancaman yang berlebihan atau sebaliknya terlalu menyepelekan tanda-tanda pelemahan yang nyata.

Kerangka Teori

Economic Warfare Michael Taillard

Michael Taillard menempatkan ekonomi bukan sebagai latar belakang perang, melainkan sebagai instrumen perang itu sendiri. Deskripsi resmi buku Economics and Modern Warfare: The Invisible Fist of the Market menjelaskan bahwa alat ekonomi telah lama digunakan untuk mencapai tujuan konflik militer dan dalam era modern bahkan dapat menjadi sarana yang lebih efektif daripada cara perang tradisional dalam kondisi tertentu.

Artinya, penguasaan atau gangguan atas energi, logistik, akses pembiayaan, distribusi, dan harga dapat memberi efek strategis tanpa perlu selalu menghasilkan kemenangan kinetik total. Dalam konteks Iran–Israel dan Rusia–Ukraina, kenaikan harga minyak, gangguan LNG, penutupan jalur laut, penguatan dolar, dan penundaan pelonggaran moneter adalah bagian dari satu medan operasi yang sama.

Supply Shock dan Stagflasi

Teori negative supply shock menjelaskan bahwa ketika pasokan energi terganggu, biaya produksi naik, inflasi terdorong naik, tetapi output dan pertumbuhan justru menurun. Dalam situasi seperti ini, bank sentral menghadapi dilema: menahan suku bunga tinggi untuk mencegah inflasi, atau melonggarkan kebijakan untuk menyelamatkan pertumbuhan.

Reuters melaporkan bahwa ECB melihat perang Iran menaikkan risiko “inflation up, growth down”, sementara The Fed memantau erat efek harga energi pada inflasi inti. Kondisi ini sangat dekat dengan gejala stagflasi, terutama bagi ekonomi yang sangat tergantung pada energi impor dan sudah memasuki fase pertumbuhan lemah.

Hegemoni Moneter dan Transisi Sistemik

Dominasi hegemonik tidak hanya ditentukan oleh ukuran ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan menyediakan mata uang jangkar, aset aman, sistem pembayaran, pasar yang dalam, dan kapasitas penyangga krisis.

Data Federal Reserve pada 2025 menunjukkan dolar tetap dominan dalam invoicing perdagangan internasional dan cadangan devisa global. IMF COFER juga menunjukkan pangsa dolar dalam cadangan devisa global pada kuartal III 2025 masih sekitar 56,92%, jauh di atas euro dan renminbi. Dengan demikian, perang besar tidak otomatis menjatuhkan dolar.

Tetapi krisis berulang dapat memperbesar biaya mempertahankan dominasi itu dan mempercepat pencarian alternatif oleh aktor lain. Ini berarti transisi hegemonik lebih mungkin terjadi sebagai erosi bertahap daripada pergantian mendadak.

Metodologi

Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif-analitis dengan metode kajian strategis dan ekonomi politik internasional. Sumber utama berasal dari laporan resmi dan semi-resmi yang memiliki kredibilitas tinggi: Reuters untuk perkembangan pasar dan kebijakan terkini, Federal Reserve dan IMF untuk data moneter internasional, NATO dan Komisi Eropa untuk belanja pertahanan dan implikasi fiskal, serta data pasar energi dari laporan yang berlandaskan sumber industri dan pemerintah.

Analisis dilakukan dengan membedakan tiga lapis: data terkonfirmasi, inferensi logis yang diturunkan dari data, dan klaim spekulatif yang tidak dijadikan dasar utama. Pendekatan ini penting karena perang modern selalu memunculkan kabut informasi, dan jurnal akademik harus menjaga disiplin antara temuan yang dapat diverifikasi dan proyeksi yang masih bersifat hipotesis.

Perang Iran–Israel sebagai Shock Energi Global

Perang Iran–Israel memusatkan tekanan ekonomi global pada energi dan jalur maritim. Reuters melaporkan Brent sempat menembus US$115,10 per barel pada 19 Maret 2026 setelah serangan terhadap aset energi kawasan, sementara Qatar menghadapi kerusakan luas di Ras Laffan dan gangguan LNG mengancam seperlima pasokan LNG global. Saudi kemudian meningkatkan ekspor dari Yanbu melalui pipa East-West, menunjukkan bahwa para aktor kawasan berusaha menggeser aliran energi dari chokepoint Hormuz ke rute alternatif. Fakta ini memperlihatkan satu hal penting: perang tidak harus menutup seluruh pasokan untuk menimbulkan efek strategis; cukup dengan meningkatkan risiko, mengacaukan rute utama, dan memaksa pasar menghitung biaya cadangan dan ketidakpastian.

Dari sudut economic warfare, efek paling penting bukan hanya kenaikan harga spot, tetapi perubahan pada ekspektasi. Ketika pasar mulai memandang pasokan energi sebagai rapuh, maka efek rambat muncul dalam premi asuransi, kontrak pengiriman, hedging valas, biaya pembiayaan, dan keputusan produksi industri. Reuters juga menunjukkan bahwa bank sentral utama—ECB, Fed, dan BoJ—langsung menyesuaikan nada kebijakannya untuk menghadapi risiko inflasi energi. Ini memperlihatkan bahwa energi dalam perang modern adalah penghubung antara medan militer, sistem logistik, dan rezim moneter.

Tekanan Akumulatif Perang Rusia–Ukraina

Tekanan dari perang Rusia–Ukraina sudah lebih dulu melemahkan bantalan ekonomi Barat, terutama Eropa. Setelah invasi Rusia pada 2022, Eropa dipaksa membayar harga mahal untuk mengakhiri ketergantungan besar pada energi Rusia, mengganti sumber pasokan, dan menopang rumah tangga serta industri lewat subsidi. Reuters menulis bahwa pada Maret 2026 pemerintah Eropa kini memiliki ruang lebih sedikit untuk mengulang intervensi besar-besaran seperti pada 2022, karena pertumbuhan lebih lemah, bunga pinjaman lebih tinggi, dan aturan fiskal kembali lebih ketat. Dengan kata lain, perang Rusia–Ukraina telah menjadi fase penggerusan awal, dan perang Iran–Israel hadir sebagai gelombang kedua yang memukul fondasi yang belum pulih penuh.

Lebih jauh, konflik Rusia–Ukraina juga memperpanjang kebutuhan dukungan militer, bantuan finansial, dan restocking industri pertahanan. Reuters melaporkan bahwa Presiden Zelenskyy memperingatkan krisis Iran mengalihkan perhatian dan sumber daya dari Ukraina, sementara beberapa negara Teluk dalam beberapa hari menggunakan lebih banyak misil pertahanan udara canggih daripada yang diterima Ukraina dari AS dalam empat tahun. Ini menegaskan kompetisi nyata atas persediaan senjata, sistem pertahanan udara, dan kapasitas industri pertahanan Barat. Tekanan ekonomi di sini bukan hanya fiskal, tetapi juga industrial: dapatkah Barat memproduksi cukup cepat untuk dua teater yang sama-sama menuntut?

Eropa sebagai Front Ekonomi yang Paling Rapuh

Eropa adalah wilayah yang paling rentan karena akumulasi tiga faktor: ketergantungan energi impor, ruang fiskal yang menyempit, dan kenaikan belanja pertahanan. Reuters menilai pasar mulai memperkirakan inflasi zona euro bisa kembali di atas 3% akibat perang Iran, sementara ECB mengambil nada hati-hati karena pertumbuhan berisiko melemah. Pada saat yang sama, Reuters juga mencatat bahwa negara-negara Eropa tidak lagi memiliki keleluasaan subsidi sebagaimana 2022. Ini berarti shock baru tidak jatuh ke sistem yang segar, melainkan ke ekonomi yang masih memulihkan diri dari krisis sebelumnya.

Aspek kedua adalah energi. Gangguan terhadap LNG Qatar dan ancaman berkepanjangan terhadap pasokan Teluk sangat berat bagi Eropa karena benua ini telah mengganti sebagian besar gas Rusia dengan LNG dan impor lain yang lebih mahal serta lebih sensitif terhadap pasar global. Reuters melaporkan bahwa negara-negara Eropa yang paling bergantung pada gas mengalami dampak paling keras dari fallout perang Iran, termasuk kenaikan tajam harga listrik. Bila kondisi ini berlarut, Eropa bukan hanya menghadapi inflasi lebih tinggi, tetapi juga risiko deindustrialisasi relatif, karena manufaktur padat energi akan semakin sulit bersaing dengan ekonomi yang memiliki energi lebih murah.

Aspek ketiga adalah pertahanan. Komisi Eropa memperkirakan kenaikan belanja pertahanan hingga 1,5% PDB dapat menaikkan level PDB UE secara terbatas pada 2028, tetapi juga menaikkan rasio utang pemerintah sekitar 2 poin persentase di atas baseline. NATO mencatat bahwa pada 2025 semua sekutu diperkirakan mencapai atau melampaui target 2% PDB untuk pertahanan, dan pengeluaran pertahanan Eropa plus Kanada telah naik besar dalam satu dekade. Ini berarti ada sedikit efek stimulus, tetapi biaya fiskalnya nyata. Dengan kata lain, Eropa sedang membiayai keamanan yang lebih mahal pada saat energi mahal dan pertumbuhan melemah.

Secara strategis, ini membuat Eropa menghadapi ancaman yang bukan berupa kolaps mendadak, melainkan keausan struktural. Industri kehilangan daya saing, pemerintah kehilangan ruang subsidi, bank sentral kehilangan fleksibilitas, dan masyarakat semakin jenuh terhadap biaya hidup tinggi serta belanja perang. Dalam bahasa kampus, Eropa menghadapi bentuk modern dari strategic overstretch by accumulation: bukan karena satu kekalahan besar, tetapi karena terlalu banyak beban struktural yang datang berturut-turut.

Amerika Serikat: Tahan Lebih Baik, tetapi Membayar Ongkos Hegemoni

Amerika Serikat berada dalam posisi berbeda. Dari sisi energi, AS relatif lebih terlindungi. Reuters melaporkan selisih WTI-Brent melebar ke level terlebar lebih dari satu dekade, antara lain karena pelepasan cadangan strategis dan struktur pasokan domestik AS yang lebih kuat. Persediaan minyak mentah AS juga meningkat pada pertengahan Maret 2026, menandakan adanya bantalan pasokan dalam negeri. Ini membuat AS tidak menghadapi kerentanan energi seberat Eropa.

Namun, ketahanan itu tidak berarti AS kebal. Reuters melaporkan Jerome Powell menegaskan The Fed terus memantau dampak harga energi dan tarif terhadap inflasi yang masih berada sekitar 3%, sehingga ruang pelonggaran moneter tetap sempit. Dalam situasi ini, perang Iran–Israel dan Rusia–Ukraina bekerja sebagai pengganda biaya. AS harus menopang aliansi Eropa, menjaga keamanan Timur Tengah, dan pada saat yang sama mempertahankan kredibilitas moneter global. Jadi tekanan bagi AS bukan terutama “energi habis”, tetapi biaya memimpin sistem internasional yang makin mahal.

Hal yang sangat penting ialah bahwa perang ini tidak langsung menghancurkan dolar. Reuters melaporkan dolar sempat menguat sebagai safe haven setelah shock minyak, dan Federal Reserve menunjukkan bahwa dolar tetap dominan dalam invoicing perdagangan internasional. IMF juga menunjukkan porsi dolar dalam cadangan devisa global masih jauh di atas mata uang lain. Jadi, secara moneter, AS justru masih menjadi tempat berlindung saat dunia terguncang. Akan tetapi, kekuatan ini memiliki paradoks: dolar yang terlalu kuat dapat memperketat kondisi finansial global, menekan perdagangan, dan pada akhirnya mengurangi pertumbuhan dunia yang juga penting bagi perusahaan-perusahaan AS. Dengan kata lain, dominasi dolar masih bertahan, tetapi biaya sistemiknya meningkat.

AS juga menghadapi dimensi industri pertahanan. Dua teater konflik besar memperbesar kebutuhan amunisi, sistem pertahanan udara, misil presisi, dan kemampuan logistik. Bila konflik-konflik ini berkepanjangan, AS harus memilih antara mempercepat ekspansi basis industri pertahanan atau menerima risiko kelangkaan relatif di beberapa kategori persenjataan. Dalam perspektif hegemonik, ini adalah tanda klasik bahwa kekuatan besar masih dominan, tetapi semakin mahal untuk mempertahankan dominasi tersebut di banyak front sekaligus.

Apakah Barat Sedang Menuju Kehancuran?

Secara akademik, kata “kehancuran” perlu diperlakukan hati-hati. Data saat ini tidak mendukung tesis bahwa ekonomi Eropa atau AS akan kolaps secara cepat hanya karena konflik-konflik ini. Dolar belum runtuh. Sistem keuangan Barat belum kehilangan fungsi. Negara-negara Eropa masih memiliki kapasitas kebijakan, meskipun lebih terbatas. AS masih memiliki kedalaman pasar modal, energi domestik, dan posisi moneter yang sangat kuat. Jadi istilah yang lebih tepat bukan “kehancuran instan”, melainkan erosi relatif yang dipercepat.

Tetapi menolak istilah “kehancuran” bukan berarti menafikan bahaya. Yang sedang terjadi adalah penumpukan biaya yang jika terus berlangsung dapat memindahkan pusat gravitasi ekonomi global secara bertahap. Eropa membayar biaya energi dan pertahanan yang lebih tinggi. AS membayar biaya hegemonik, moneter, dan industri yang lebih besar. Dalam jangka pendek, keduanya tetap bertahan. Dalam jangka menengah, keduanya berisiko kehilangan sebagian keunggulan relatif terhadap aktor yang tidak memikul beban keamanan dan subsidi sebesar itu, atau yang memiliki kedalaman energi dan kapasitas industri lebih tinggi.

Pergeseran Hegemoni: Bukan Jatuh Mendadak, tetapi Redistribusi Daya Tawar

Perpindahan hegemoni dalam konteks ini lebih tepat dipahami sebagai redistribusi daya tawar geokonomi daripada penumbangan langsung dolar atau AS. Selama dolar masih menjadi safe haven, Treasury AS masih dalam, dan sistem pembayaran global masih sangat didominasi institusi Barat, maka hegemoni moneter formal belum berpindah. Namun, perang ganda Iran–Israel dan Rusia–Ukraina mempercepat pencarian jalur perdagangan alternatif, penataan ulang rantai pasok energi, peningkatan otonomi strategis di luar Barat, dan penguatan posisi tawar negara-negara yang memiliki energi, kapasitas manufaktur, atau fleksibilitas diplomatik lebih besar.

Dengan kata lain, yang berubah paling cepat bukanlah mahkota hegemoni formal, tetapi geometri pengaruh. Aktor non-Barat tidak harus segera menggantikan dolar untuk memperoleh keuntungan strategis. Mereka cukup memperbesar peran dalam pasokan energi, produksi industri, transaksi regional, atau mediasi diplomatik. Sementara itu, Barat tetap dominan, tetapi semakin banyak bertahan melalui biaya yang meningkat. Inilah esensi dari erosi hegemonik: dominasi tetap ada, tetapi margin keunggulannya semakin mahal untuk dipertahankan.

Sintesis Teoretis: Dari Economic Warfare ke Strategic Attrition

Jika memakai lensa Michael Taillard, maka gabungan perang Iran–Israel dan Rusia–Ukraina dapat dipahami sebagai bentuk economic warfare yang menimbulkan strategic attrition terhadap Barat. Iran, Rusia, dan gejolak global tidak perlu menghancurkan ekonomi Barat secara total untuk mencapai efek strategis. Cukup dengan menjaga agar energi mahal, suku bunga sulit turun, stok militer harus diisi ulang, dan pemerintah Barat dipaksa memilih antara subsidi, pertahanan, dan stabilitas fiskal. Pada titik itu, perang telah berhasil memindahkan beban utama ke jantung sistem ekonomi lawan.

Dalam rumusan lain, perang modern bekerja optimal ketika ia memukul kelemahan lawan yang sudah ada. Eropa memang telah rentan karena ketergantungan energi. AS memang telah menghadapi inflasi, polarisasi fiskal, dan kebutuhan mempertahankan dua front sekaligus. Maka shock-shock baru tidak menciptakan semua masalah dari nol; ia mempercepat masalah yang sudah ada. Di sinilah perang ekonomi menjadi sangat efektif: ia mengeksploitasi kerentanan struktural, bukan hanya menghasilkan kerusakan sesaat.

Analisis Ke Depannya

Ke depan, perkembangan paling mungkin bergerak dalam empat skenario utama. Skenario pertama adalah de-eskalasi terbatas, di mana konflik Iran–Israel tidak menyebar lebih jauh ke infrastruktur energi inti dan aliran Hormuz perlahan distabilkan melalui rute alternatif seperti Yanbu. Dalam skenario ini, harga energi tetap tinggi untuk beberapa waktu tetapi turun dari puncaknya, sehingga Eropa dan AS mengalami perlambatan namun bukan krisis mendalam. Skenario ini mensyaratkan keberhasilan diplomasi dan tidak adanya serangan lanjutan besar terhadap LNG Qatar atau chokepoint utama.

Skenario kedua adalah konflik berkepanjangan dengan gangguan energi intermiten. Ini tampak sebagai skenario yang paling realistis bila melihat laporan Reuters tentang kehati-hatian bank sentral, kerusakan energi kawasan, dan belum jelasnya jalan keluar cepat. Dalam skenario ini, Eropa akan terus menghadapi inflasi energi, suku bunga yang tertahan tinggi, dan penurunan daya saing manufaktur. AS tetap bertahan, tetapi biaya hegemoninya membesar, termasuk tekanan pada basis industri pertahanan dan politik domestik. Ini akan mempercepat erosi relatif Barat tanpa menghasilkan kolaps.

Skenario ketiga adalah integrasi dua front menjadi satu krisis sistemik Barat. Ini terjadi bila perang Iran–Israel mengalihkan sumber daya militer dan finansial dari Ukraina, sementara Rusia memanfaatkan harga energi yang lebih tinggi untuk memperkuat pendapatan fiskalnya. Reuters telah melaporkan potensi lonjakan penerimaan pajak minyak Rusia akibat reli harga global, dan juga kekhawatiran Ukraina bahwa krisis Iran mengalihkan perhatian serta dukungan dari front Eropa Timur. Bila kondisi ini berlanjut, Barat akan terjepit antara kebutuhan menjaga Ukraina, menstabilkan Timur Tengah, dan menahan inflasi domestik.

Skenario keempat adalah percepatan multipolaritas ekonomi. Ini bukan berarti AS jatuh mendadak, melainkan bahwa semakin banyak negara mengurangi ketergantungan unilateral terhadap satu sumber energi, satu jalur dagang, atau satu pusat keputusan geopolitik. Dalam skenario ini, dominasi dolar masih bertahan, tetapi jaringan kekuasaan ekonomi menjadi lebih tersebar. Negara yang memiliki energi, logistik alternatif, industri pertahanan, dan keluwesan diplomatik akan memperoleh keuntungan. Pergeseran seperti ini cenderung lambat tetapi lebih sulit dibalikkan.

Berdasarkan tren saat ini, penilaian yang paling masuk akal adalah bahwa 2026–2027 akan menjadi fase keausan hegemonik Barat, bukan fase kehancuran mendadak. Eropa tampaknya akan menghadapi pertumbuhan rendah lebih lama, inflasi energi yang lebih persisten, dan debat politik yang lebih keras tentang subsidi, pertahanan, dan industri. Amerika Serikat kemungkinan masih mempertahankan dominasi moneter, tetapi dengan ruang kebijakan yang lebih sempit dan beban keamanan global yang lebih mahal. Pada saat yang sama, aktor-aktor non-Barat tidak otomatis menjadi hegemon baru, tetapi mereka akan menikmati ruang gerak dan daya tawar yang lebih besar dalam sistem dunia yang semakin terfragmentasi.

Kesimpulan

Perang Iran–Israel dan perang Rusia–Ukraina harus dibaca sebagai dua gelombang tekanan yang saling bertumpuk pada sistem ekonomi Barat. Gelombang pertama—Rusia–Ukraina—menggerus energi murah, fiskal, dan basis industri pertahanan Eropa, serta memperpanjang komitmen keamanan AS. Gelombang kedua—Iran–Israel—menambah shock energi baru, menahan penurunan suku bunga, dan memperbesar ketidakpastian global. Dalam kerangka Michael Taillard, ini adalah contoh jelas bahwa economic warfare bukan sekadar dampak samping perang, melainkan inti dari perang modern itu sendiri.

Kesimpulan pokok artikel ini adalah bahwa Barat belum memasuki fase kehancuran ekonomi, tetapi nyata sedang mengalami erosi relatif yang dipercepat. Eropa adalah sektor paling rapuh karena ketergantungan energi, ruang fiskal sempit, dan biaya pertahanan tinggi. Amerika Serikat lebih tahan secara moneter dan energi, tetapi menanggung ongkos hegemoni yang semakin besar. Dominasi dolar belum runtuh, tetapi setiap krisis baru memperbesar biaya mempertahankan sistem yang dipimpin AS. Maka, arah sejarah yang paling mungkin bukan jatuhnya Barat secara mendadak, melainkan bergesernya dunia ke konfigurasi multipolar yang lebih kompetitif, lebih mahal, dan lebih tidak stabil.

Madina, 19 Maret 2026

-Oke02-

Daftar Pustaka

European Central Bank. “ECB to Talk Tough as Iran War Raises Inflation Fears.” Reuters, March 18, 2026.

Federal Reserve Board. “The International Role of the U.S. Dollar – 2025 Edition.” July 18, 2025.

International Monetary Fund. “Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves.” 2025.

NATO. “Defence Expenditure of NATO Countries (2014–2025).” 2025.

NATO. “Defence Expenditures and NATO’s 5% Commitment.” December 18, 2025.

Reuters. “Debt-Burdened Europe Has Fewer Options to Buffer Energy Shock.” March 13, 2026.

Reuters. “German General Says Oil Price Surge Will Be No Game Changer for Russia-Ukraine War.” March 18, 2026. [terimplikasi dalam rangkaian coverage Reuters terkait perang dan energi]

Reuters. “Oil Jumps above $115/bbl after Attacks on Mideast Energy Assets Multiply.” March 19, 2026.

Reuters. “Powell Says Tariffs Keeping Inflation Elevated, Fed Watching Energy Prices Closely.” March 18, 2026.

Reuters. “Qatar Says Iran Attacked LNG Hub; UAE Shuts Gas Facilities.” March 18, 2026.

Reuters. “Revenues from Russia’s Largest Oil Tax Seen Doubling in March on Global Price Rally.” March 12, 2026.

Reuters. “Saudi Red Sea Oil Exports Set to Jump to 3.8 Million bpd in March, Shipping Data Shows.” March 18, 2026.

Reuters. “Tehran Warns Gulf Energy Sites to Evacuate after Iranian Gas Facilities Hit.” March 18, 2026.

Reuters. “Zelenskiy Says Russia Oil Waiver Won’t Help End War.” March 13, 2026.

Springer. Economics and Modern Warfare: The Invisible Fist of the Market, by Michael Taillard.

Komentar

Format: 08123456789 atau +628123456789
0 / 5000

Memuat pertanyaan...

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui penyimpanan nama, nomor WhatsApp, dan alamat IP untuk moderasi.