Oleh: Kolonel Arm Oke Kistiyanto
Abstrak
Perang modern semakin menunjukkan pergeseran dari penghancuran pasukan lapangan menuju pelumpuhan sistem yang menopang keberlangsungan negara. Dalam konteks ini, ladang gas lepas pantai Leviathan dan Tamar di Mediterania Timur merepresentasikan sasaran bernilai strategis tinggi karena terkait langsung dengan pasokan energi, pembangkitan listrik, stabilitas ekonomi, dan daya tahan nasional Israel. Artikel ini menganalisis ancaman terhadap kedua platform tersebut melalui dua pisau analisis utama: Economic Warfare dari Michael Taillard dan Center of Gravity (CoG) dari Milan Vego. Tulisan ini berargumen bahwa Leviathan dan Tamar bukan sekadar aset ekonomi, tetapi bagian dari struktur penopang pusat gravitasi nasional. Karena itu, serangan terhadap keduanya berpotensi menghasilkan efek sistemik: gangguan energi, tekanan ekonomi, degradasi fungsi sipil, penurunan kebebasan bertindak militer, serta tekanan psikologis-politik. Dengan demikian, infrastructure warfare harus dipahami sebagai bentuk perang sistem yang menghubungkan dimensi energi, ekonomi, operasional, dan strategi dalam satu rangkaian efek yang terintegrasi.
Kata kunci: infrastructure warfare, economic warfare, center of gravity, Leviathan, Tamar, perang modern, energi strategis.
Pendahuluan
Perubahan karakter perang dewasa ini memperlihatkan bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh penghancuran kekuatan tempur lawan secara frontal. Dalam banyak kasus, hasil strategis justru ditentukan oleh kemampuan menyerang simpul-simpul sistemik yang menopang daya tahan negara. Salah satu simpul itu adalah infrastruktur energi. Dalam konteks Mediterania Timur, Leviathan dan Tamar menjadi contoh nyata bagaimana infrastruktur ekonomi dapat berubah menjadi sasaran operasional-strategis.
Leviathan ditemukan pada 2010 dan mulai berproduksi pada akhir 2019, lalu berkontribusi pada transformasi Israel dari negara yang relatif rentan energi menjadi eksportir gas regional. Sumber resmi Israel dan Chevron menegaskan bahwa Leviathan kini menjadi komponen penting dalam produksi gas nasional, sementara Tamar telah lebih dahulu menjadi pilar sistem energi Israel. Produksi gas offshore Israel secara keseluruhan juga menopang lebih dari 60 persen kebutuhan energi negara tersebut.
Ancaman terhadap Leviathan dan Tamar tidak boleh dibaca hanya sebagai ancaman terhadap fasilitas industri biasa. Dua platform itu diposisikan sebagai tulang punggung pasokan gas yang memberi daya bagi rumah sakit, pabrik, fasilitas air, jaringan komunikasi, dan instalasi pertahanan. Walaupun beberapa unsur dalam narasi bersifat dramatik dan tidak seluruhnya dapat diverifikasi secara independen—khususnya klaim rinci mengenai penugasan unit serang dan koordinat target—substansi utamanya tetap sahih secara konseptual: infrastruktur energi offshore dapat menjadi sasaran bernilai tinggi dalam perang modern.
Dari sudut pandang ilmu perang, kasus ini penting karena memperlihatkan hubungan erat antara energi, ekonomi, ketahanan sipil, dan kemampuan operasi militer. Oleh sebab itu, tulisan ini membahas Leviathan dan Tamar sebagai sasaran infrastructure warfare melalui kerangka economic warfare Michael Taillard dan center of gravity Milan Vego.
Kerangka Teori
Economic Warfare menurut Michael Taillard
Dalam perspektif Michael Taillard, perang ekonomi adalah penggunaan instrumen ekonomi, sumber daya, perdagangan, keuangan, produksi, dan logistik untuk menekan, memaksa, atau melumpuhkan lawan. Inti pendekatan ini bukan hanya menghancurkan aset, melainkan mengganggu kemampuan sistem ekonomi lawan untuk menopang perang dan kehidupan nasional. Dalam logika ini, energi merupakan sasaran istimewa karena ia mengalir ke hampir seluruh sendi negara: industri, transportasi, komunikasi, keuangan, hingga dukungan bagi angkatan bersenjata.
Dengan demikian, serangan terhadap platform gas bukan sekadar tindakan kinetik terhadap objek fisik, melainkan bentuk economic coercion melalui penghancuran atau ancaman penghancuran simpul energi. Biaya perang lawan meningkat, biaya pemulihan naik, pasar terguncang, kepercayaan investor menurun, dan negara dipaksa mengalihkan sumber daya untuk stabilisasi domestik.
Center of Gravity menurut Milan Vego
Bagi Milan Vego, Center of Gravity adalah sumber utama kekuatan yang memberi kebebasan bertindak, daya tahan, dan kemauan untuk melanjutkan perjuangan. CoG tidak boleh disamakan dengan sasaran penting biasa. Ia harus ditentukan melalui analisis kemampuan kritis, kebutuhan kritis, dan kerentanan kritis.
Dalam konteks negara modern, CoG nasional sering kali tidak hanya berbentuk angkatan bersenjata, tetapi juga melibatkan struktur pendukung yang memungkinkan negara tetap hidup dan beroperasi. Energi menjadi salah satu unsur tersebut. Karena itu, Leviathan dan Tamar dapat dipahami sebagai bagian dari critical support structure yang menempel erat pada CoG nasional Israel.
Infrastructure Warfare
Infrastructure warfare adalah pendekatan yang menempatkan infrastruktur kritis sebagai sasaran untuk menghasilkan efek strategis tidak langsung. Tujuannya bukan semata menghancurkan pasukan, tetapi melumpuhkan fungsi yang menjaga negara tetap berjalan. Dalam kerangka ini, penghancuran satu simpul energi dapat memicu rangkaian efek pada pembangkitan listrik, distribusi air, layanan kesehatan, aktivitas ekonomi, dan stabilitas psikologis masyarakat.
Pembahasan
1. Leviathan dan Tamar sebagai Simpul Energi Strategis
Leviathan berada di laut dalam sekitar 130 km dari pantai Israel, sedangkan Tamar merupakan ladang gas besar lain yang telah lebih dahulu beroperasi. Produksi Leviathan sejak akhir 2019 memberi Israel kemampuan ekspor gas dalam jumlah signifikan ke negara tetangga, sementara laporan pemerintah Israel menyebut bahwa produksi gas offshore telah meningkatkan ketahanan energi nasional dan mendukung ekspor regional.
Dari sudut pandang operasional, Leviathan dan Tamar bukan sekadar “fasilitas ekonomi”, melainkan node energi nasional. Gas dari ladang-ladang ini menopang pembangkitan listrik, dan pembangkitan listrik itu selanjutnya memberi daya pada rumah sakit, industri, transportasi, sistem komunikasi, dan instalasi strategis negara. Karena itu, ancaman terhadap platform-platform ini harus dibaca sebagai ancaman terhadap fungsi hidup negara, bukan hanya terhadap aset industri.
2. Structural Gas Bottleneck sebagai Kerentanan Sistemik
Narasi kedua yang Anda tambahkan menegaskan ide structural gas bottleneck. Secara analitis, ini berarti suatu negara memiliki ketergantungan tinggi pada sedikit simpul energi, sehingga gangguan terhadap simpul itu menimbulkan efek yang sangat luas. Dalam perang ekonomi, kondisi seperti ini adalah kerentanan ideal untuk dieksploitasi.
Leviathan dan Tamar mencerminkan pola tersebut. Ketika suplai energi bergantung pada sejumlah kecil platform tetap di laut terbuka, maka negara menghadapi konsentrasi risiko. Targetnya bersifat: tetap, mudah dipetakan, bernilai tinggi, sulit diganti cepat, dan jika terganggu memicu efek berantai.
Dalam istilah Vego, keadaan ini menunjukkan hubungan kuat antara critical capability dan critical vulnerability. Kapabilitas kritisnya adalah kemampuan mempertahankan pasokan energi nasional. Kebutuhan kritisnya adalah platform produksi, jaringan distribusi, perlindungan maritim, dan sistem pertahanan udara. Kerentanan kritisnya muncul karena kebutuhan itu terlalu terkonsentrasi pada dua fasilitas utama.
3. Leviathan dan Tamar dalam Perspektif CoG
Secara ketat, Leviathan dan Tamar mungkin bukan CoG nasional Israel itu sendiri. CoG nasional lebih mungkin berada pada gabungan antara kehendak politik, kemampuan militer terpadu, dukungan internasional, dan kohesi masyarakat. Namun, dua platform itu jelas merupakan struktur pendukung CoG yang sangat vital.
Dengan kata lain:
- CoG nasional: kemampuan Israel mempertahankan fungsi negara dan operasi perang.
- critical capability: menjaga energi tetap mengalir agar negara dan militer dapat berfungsi.
- critical requirement: platform offshore, pipa, pemrosesan, keamanan maritim, pertahanan udara, dan pemulihan cepat.
- critical vulnerability: konsentrasi pasokan energi pada target tetap di laut terbuka.
Maka, menyerang Leviathan dan Tamar berarti tidak harus menyerang CoG secara langsung. Cukup melemahkan struktur pendukungnya, maka CoG lawan tertekan. Ini adalah logika operational art yang sangat khas: memilih sasaran yang dapat menghasilkan efek tidak proporsional terhadap keseluruhan sistem.
4. Infrastructure Warfare sebagai Economic Warfare
Michael Taillard membantu menjelaskan mengapa target energi demikian menarik. Serangan terhadap platform gas akan memukul lawan melalui empat jalur sekaligus.
Pertama, jalur energi: pasokan gas terganggu, pembangkitan listrik terdampak, dan kebutuhan energi alternatif meningkat.
Kedua, jalur ekonomi: output industri menurun, biaya produksi naik, kontrak ekspor terganggu, dan kepercayaan pasar memburuk.
Ketiga, jalur sosial-politik: masyarakat mulai merasakan gangguan listrik, air, rumah sakit, dan harga; legitimasi pemerintah lalu tertekan.
Keempat, jalur operasional-militer: jaringan komunikasi, instalasi militer, dan logistik strategis juga membutuhkan energi yang andal.
Inilah titik temu economic warfare dan infrastructure warfare: target fisik yang sama dapat menghasilkan efek ekonomi, moral, dan operasional secara simultan.
5. Preseden Abqaiq dan Logika Serangan Sistemik
Serangan ke fasilitas minyak Abqaiq dan Khurais pada 2019 menjadi preseden penting. CSIS mencatat bahwa serangan tersebut sempat mengganggu sekitar 5 juta barel per hari produksi minyak Saudi pada tahap awal, memperlihatkan bahwa satu serangan terhadap infrastruktur energi dapat mengguncang pasar dan persepsi strategis global.
Pelajaran dari Abqaiq bukan hanya soal kerusakan fisik, melainkan soal strategic shock. Infrastruktur energi yang sangat terkonsentrasi memiliki nilai sistemik tinggi; akibatnya, serangan terhadapnya mampu menghasilkan efek yang jauh melebihi biaya taktis pelaku. Dalam konteks Leviathan dan Tamar, bahkan ancaman yang kredibel pun sudah cukup untuk memaksa negara pembela mengalihkan sumber daya besar untuk perlindungan, asuransi, patroli, dan penyesuaian operasi.
6. Dilema Geometri Operasional Offshore
Platform offshore memiliki karakteristik geometri yang membuatnya sangat rentan:
posisinya tetap, bentuknya besar dan mudah diidentifikasi, tidak dapat disebar seperti satuan darat, perlindungan pasif terbatas, dan pemulihannya kompleks.
Berbeda dengan fasilitas darat yang bisa diberi bunker, dispersal, atau kedalaman pertahanan, platform gas di laut adalah target bernilai tinggi yang terekspos. Ini memaksa pembela menerapkan perlindungan multidomain: maritim, udara-rudal, siber, intelijen, hingga kemampuan pemulihan teknis. Dalam kalkulus penyerang, kondisi ini sangat menguntungkan karena satu ancaman terhadap satu node dapat mengikat banyak sumber daya pembela.
7. Perang Modern sebagai Perang Sistem
Kasus Leviathan dan Tamar menunjukkan bahwa perang modern semakin bersifat system-centric, bukan semata attrition-centric. Yang dicari bukan hanya kehancuran unit tempur, tetapi pelumpuhan terhadap konektivitas yang membuat negara tetap hidup. Energi adalah salah satu penghubung utama antara negara, masyarakat, dan militer.
Dalam bahasa strategi, siapa yang mampu melindungi node energinya, Ia mempertahankan kebebasan bertindak. Siapa yang kehilangan node itu, ia mulai kehilangan kontrol atas tempo, stabilitas internal, dan daya tahan perang. Karena itu, infrastructure warfare pada sektor energi harus dibaca sebagai serangan terhadap arsitektur keberlanjutan nasional.
Kesimpulan
Leviathan dan Tamar adalah contoh nyata bagaimana infrastruktur ekonomi dapat berubah menjadi sasaran operasional-strategis dalam perang modern. Dalam perspektif Economic Warfare Michael Taillard, keduanya merupakan target ideal karena kerusakan terhadapnya dapat menaikkan biaya perang lawan, melumpuhkan sebagian fungsi ekonomi, menekan legitimasi politik, dan mengganggu ketahanan nasional. Dalam perspektif Center of Gravity Milan Vego, kedua platform tersebut paling tepat dipahami sebagai critical vulnerability atau struktur pendukung CoG nasional, karena menopang energi yang menjadi dasar keberlangsungan fungsi sipil dan militer.
Dengan demikian, serangan terhadap Leviathan dan Tamar bukan semata serangan terhadap fasilitas gas. Itu adalah upaya menyerang daya tahan nasional melalui simpul energi. Inilah inti infrastructure warfare: melumpuhkan negara bukan dengan menaklukkan seluruh tentaranya, tetapi dengan menghantam sistem yang membuat negara tetap dapat bertahan, berfungsi, dan berperang.
Rekomendasi
Pertama, negara yang bertumpu pada infrastruktur energi terkonsentrasi perlu membangun redundansi sistem, baik dalam produksi, distribusi, maupun cadangan energi.
Kedua, perlindungan terhadap infrastruktur energi strategis harus dirancang dalam pola pertahanan berlapis multidomain, mencakup laut, udara, siber, intelijen, dan pemulihan pascaserangan.
Ketiga, dalam perencanaan operational art, analis militer harus memasukkan simpul ekonomi-energi sebagai bagian dari pemetaan CoG, critical capabilities, critical requirements, dan critical vulnerabilities.
Keempat, perang masa depan menuntut sinergi erat antara sektor pertahanan, energi, ekonomi, dan komunikasi strategis, karena kegagalan di satu sektor dapat menjalar cepat ke seluruh sistem nasional.
Serang, 16 Maret 2026
-Oke02-
Daftar Pustaka
Chevron. “Our Businesses — Israel.”
CSIS. “Attack on Saudi Oil Infrastructure: We May Have Dodged a Bullet, at Least for Now.”
CSIS. “The Strategic Implications of the Strikes on Saudi Arabia.”
CSIS. “If Trump Strikes Iran: Mapping the Oil Disruption Scenarios.”
Government of Israel. “Israel's First Biennial Transparency Report and Fourth National Communication.”
Government of Israel. “Celebrating the Tenth Anniversary of the Israeli Gas Revolution!”
Government of Israel. “The State of Israel, Prospectus 2023.”
Government of Israel. “Israeli Gas Opportunities.”
Komentar