Kajian Militer

Petrodollar di Bawah Tekanan Perang: Energi, Hegemoni, dan Kerentanan Sistemik dalam Konflik AS–Iran

Operator Kodim 0602/Serang
6 menit baca
Petrodollar di Bawah Tekanan Perang: Energi, Hegemoni, dan Kerentanan Sistemik dalam Konflik AS–Iran

oleh: Kolonel Arm Oke Kistiyanto


Petrodollar sejak lama dipahami sebagai salah satu penyangga utama dominasi struktural Amerika Serikat dalam ekonomi politik internasional. Dalam bentuk paling sederhana, sistem ini bekerja ketika minyak—komoditas strategis yang menjadi input dasar bagi industri, transportasi, dan keamanan modern—secara luas diperdagangkan dalam denominasi dolar, sehingga permintaan energi ikut menopang permintaan global atas dolar.

Namun, kekuatan petrodollar tidak semata-mata bersandar pada kebiasaan invoicing, melainkan pada keseluruhan arsitektur yang menghubungkan pasar energi, jalur pelayaran, pusat logistik Teluk, sistem pembayaran, dan payung keamanan Amerika Serikat. Karena itu, ketika konflik berskala besar mengguncang Teluk dan Selat Hormuz, yang diuji bukan hanya stabilitas pasokan minyak, tetapi juga fondasi geopolitik dari kredibilitas dolar itu sendiri.

Dalam literatur ekonomi politik, dominasi mata uang internasional tidak pernah lahir dari mekanisme pasar yang sepenuhnya netral. Ia ditopang oleh kedalaman pasar keuangan, likuiditas, efek jaringan, serta kapasitas negara hegemon untuk menjamin keteraturan. Itulah sebabnya petrodollar lebih tepat dibaca sebagai tata kuasa daripada sekadar praktik perdagangan. Selama Amerika Serikat dapat menjamin keamanan koridor energi utama dan melindungi sekutu-sekutunya di Teluk, denominasi dolar dalam perdagangan energi memperoleh lapisan legitimasi strategis. Sebaliknya, ketika kawasan yang menjadi jantung sistem itu justru menunjukkan kerentanan akut, muncul tekanan terhadap salah satu sumber keunggulan struktural Amerika Serikat: reputasinya sebagai penjamin stabilitas regional.

Perkembangan perang AS–Iran hingga 8 Maret 2026 memperlihatkan dinamika tersebut dengan sangat jelas. Reuters mencatat bahwa satu minggu setelah operasi dimulai, kampanye itu telah berkembang menjadi operasi militer terbesar Amerika Serikat sejak 2003. Walaupun serangan pemenggalan kepemimpinan telah menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan kampanye udara-intelijen menimbulkan kerusakan berat pada Iran, kemampuan balasan Teheran tidak berhenti. Justru sebaliknya, respons Iran meluas ke Israel dan negara-negara Teluk, sehingga konflik bergerak dari duel militer menjadi kontestasi regional yang membebani jalur energi, bandar udara, pelabuhan, dan persepsi keamanan pasar.

Di titik inilah pembacaan berbasis game theory menjadi relevan untuk melengkapi analisis petrodollar. Dalam kerangka deterrence game, operasi gabungan AS–Israel belum menghasilkan efek penggentar yang final, karena Iran tetap menilai bahwa biaya untuk berhenti bisa lebih berbahaya daripada biaya untuk terus melawan. Dalam kerangka war of attrition, Iran tidak perlu menang secara simetris; cukup dengan memindahkan arena konflik ke node-node mahal bagi lawan, seperti Hormuz, fasilitas energi GCC, dan pusat logistik regional. Reuters melaporkan bahwa UAE menanggung porsi besar serangan awal Iran; sekitar 63% serangan diarahkan ke bandara, pelabuhan, dan infrastruktur minyak, dengan estimasi 165 misil balistik/jelajah dan 600 drone diluncurkan dalam 48 jam pertama. Serangan drone juga dilaporkan mengenai tangki bahan bakar di Pelabuhan Duqm, Oman. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa nilai strategis Iran terletak pada kemampuan memaksakan biaya, bukan mengalahkan Amerika Serikat dalam perang platform lawan platform.

Signifikansi strategis Selat Hormuz dalam kerangka ini sangat besar. Reuters berulang kali menegaskan bahwa sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia bergerak melalui chokepoint tersebut. Pada 7 Maret 2026, Reuters melaporkan bahwa perang telah membuat Hormuz tidak dapat dilalui selama delapan hari berturut-turut, memaksa Kuwait memangkas produksi dan mendeklarasikan force majeure, sementara ADNOC menyesuaikan output offshore karena keterbatasan storage dan gangguan shipping.

Bahkan tanpa penutupan permanen, cukup dengan membuat gangguan maritim menjadi kredibel dan berkepanjangan, Iran telah mengubah kalkulus biaya global. Dalam logika petrodollar, ini sangat penting: dominasi dolar dalam energi memerlukan bukan hanya permintaan, tetapi juga kelancaran arus energi yang dijamin oleh tatanan keamanan. Ketika tatanan itu goyah, fondasi hegemonik yang menopang sistem ikut tertekan.

Kerentanan GCC memperdalam argumen tersebut. Reuters mencatat bahwa Dubai tetap merupakan simpul utama mobilitas internasional, dengan DXB sebagai bandara internasional tersibuk dunia. Namun Reuters juga melaporkan bahwa perang ini telah menimbulkan gangguan penerbangan terbesar sejak pandemi COVID-19, dengan repatriasi massal dan penumpukan warga asing yang terjebak di kawasan. Ribuan warga Amerika dievakuasi melalui lebih dari selusin penerbangan charter, sementara lalu lintas sipil dan komersial regional mengalami disrupsi luas.

Artinya, pusat-pusat logistik yang selama ini menjadi simbol stabilitas Teluk kini tampil sebagai titik rawan yang dapat dipaksa masuk ke dalam kalkulus koersif Iran.

Lebih jauh lagi, perang ini menunjukkan bahwa anatomi kerentanan GCC tidak berhenti pada energi dan transportasi. AP menekankan bahwa kawasan Teluk sangat bergantung pada desalinasi, dengan sebagian negara memperoleh hingga 90% kebutuhan air hariannya dari fasilitas tersebut.

Ketika fasilitas air, listrik, pelabuhan, bandara, dan pusat data masuk ke dalam radius ancaman, maka konflik bergerak ke tingkat systemic vulnerability. Reuters juga melaporkan gangguan pada fasilitas AWS di UEA dan Bahrain akibat serangan drone, menandakan bahwa sasaran bernilai strategis kini mencakup infrastruktur digital, bukan hanya minyak klasik.

Dari sudut pandang hegemonik, ini berarti lawan yang lebih lemah dapat menyerang sustainment architecture yang menopang ekonomi kawasan dan, secara tidak langsung, kredibilitas tatanan yang dijamin Washington.

Namun, secara akademik, tekanan terhadap petrodollar tidak boleh dibaca secara berlebihan sebagai bukti keruntuhan dolar yang segera. Yang lebih tepat adalah menyatakan bahwa perang AS–Iran telah memperlihatkan batas-batas material dari hegemoni finansial. Dolar tetap unggul karena pasar AS tetap dalam, likuid, dan dominan.

Akan tetapi, perang ini memperlihatkan bahwa salah satu pilar geopolitik dari keunggulan itu—yakni keamanan Teluk dan kredibilitas Amerika Serikat sebagai pengelola keteraturan regional—dapat dipaksa masuk ke posisi defensif. Ini selaras dengan jajak pendapat Reuters/Ipsos awal Maret yang menunjukkan hanya sekitar 27% responden Amerika mendukung serangan AS terhadap Iran, sementara 43% menolak. Dengan kata lain, biaya perang tidak hanya eksternal, tetapi juga reputasional dan domestik.

Dimensi reputasi tersebut sangat penting. Hegemoni bukan sekadar kemampuan menghukum, tetapi juga kemampuan menjamin keteraturan. Jika Amerika Serikat dapat menyerang Iran tetapi tidak dapat sepenuhnya menjaga kelancaran Hormuz, melindungi sekutu-sekutu GCC, menstabilkan shipping, dan membatasi eskalasi biaya energi, maka reputasinya sebagai penjamin tatanan akan mengalami abrasi.

Reuters bahkan mencatat bahwa serangan Iran ke negara-negara Teluk berpotensi memperluas koalisi anti-Iran, yang menunjukkan bahwa permainan ini tidak satu arah: strategi cost-imposition Iran efektif dalam jangka pendek, tetapi juga mengandung risiko mendorong Saudi dan negara GCC lain lebih dekat kepada operasi militer AS. Karena itu, konflik ini paling tepat dipahami sebagai permainan berulang dengan adaptasi cepat dari semua aktor, bukan sebagai jalur linear menuju kemenangan salah satu pihak.

Kesimpulannya, update operasional hingga 8 Maret 2026 memberi bukti empiris bahwa dominasi moneter Amerika Serikat tidak dapat dipisahkan dari keamanan energi dan keteraturan Teluk. Perang AS–Iran memperlihatkan bahwa pihak yang lebih lemah secara konvensional tetap dapat mengganggu arsitektur hegemonik dengan menyerang simpul-simpul kerentanan: Hormuz, pelabuhan, bandara, infrastruktur energi, air, dan data. Ini tidak membuktikan bahwa petrodollar akan runtuh dalam waktu dekat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia adalah sistem yang harus terus dipertahankan secara geopolitik, bukan sekadar diwariskan oleh logika pasar.

Dalam perang modern, pertarungan menentukan tidak hanya berlangsung pada penghancuran unsur tempur lawan, melainkan juga pada kemampuan memelihara arus energi, kepercayaan pasar, dan legitimasi sebagai penjamin keteraturan regional.

Serang, 8 Maret 2026



Komentar

Format: 08123456789 atau +628123456789
0 / 5000

Memuat pertanyaan...

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui penyimpanan nama, nomor WhatsApp, dan alamat IP untuk moderasi.