Kajian Militer

REKONFIGURASI KOORDINASI BANTUAN TEMBAKAN DALAM PERANG FIRES MODERN:

Operator Kodim 0602/Serang
19 menit baca
REKONFIGURASI KOORDINASI BANTUAN TEMBAKAN DALAM PERANG FIRES MODERN:

ANALISIS DOKTRIN, OPERATIONAL FIRES, COMMAND AND CONTROL WARFARE, TAKTIK ARTILERI MEDAN, DAN PADA KONFRONTASI DEEP FIRES VERSUS PERTAHANAN BERLAPIS PERANG IRAN-ISRAEL AMERIKA

Oleh: Kolonel Arm Oke Kistiyanto

Abstrak

Artikel ini menganalisis perubahan karakter fires modern melalui perbandingan antara doktrin lama dan temuan baru pada konflik Iran–Israel–Amerika Serikat, dengan fokus pada Koordinasi Bantuan Tembakan (Korbantem), operational fires, Command and Control Warfare (C2W), implikasinya terhadap taktik Artileri Medan, serta pergeseran doktrin targeting. Kerangka teoritis utama bertumpu pada Milan Vego untuk operational art, Moshe Kress untuk operational logistics, Dale C. Eikmeier untuk analisis center of gravity, serta effects-based thinking sebagai orientasi analitis atas penciptaan efek sistemik.

Argumen sentral artikel ini adalah bahwa bantuan tembakan modern tidak lagi terutama diarahkan pada penghancuran sasaran fisik, melainkan pada pelumpuhan fungsi sistem lawan: radar, relai komunikasi, inventori interseptor, ritme keputusan, dan operational enablers. Secara doktrinal, perubahan ini menuntut pergeseran Korbantem dari koordinasi platform menuju koordinasi efek. Secara empiris, sumber terbuka menunjukkan bahwa pertahanan Israel bekerja secara berlapis melalui Iron Dome, David’s Sling, Arrow-2/3, THAAD, dan Aegis, sementara ancaman yang dihadapinya semakin banyak berbentuk integrasi misil, roket, drone, serta tekanan terhadap domain informasi dan navigasi.

Artikel ini menyimpulkan bahwa operational fires modern harus dipahami sebagai instrumen desain kampanye; bahwa C2W merupakan unsur sentral dalam penciptaan efek operasional; bahwa doktrin targeting perlu bergeser dari penargetan berbasis kategori menuju penargetan berbasis fungsi sistem dan urutan efek; dan bahwa taktik Artileri Medan modern harus bergerak dari logika penghancuran sasaran menuju logika penciptaan efek operasional berlapis.

Kata kunci: fires, deep fires, Korbantem, operational fires, C2W, targeting, EBO, EBAO, Milan Vego, Moshe Kress, Dale C. Eikmeier, pertahanan berlapis, drone.

1. Pendahuluan

Perang modern memperlihatkan pergeseran mendasar dalam logika penggunaan kekuatan tempur. Jika dalam paradigma lama efektivitas bantuan tembakan terutama diukur dari volume, akurasi, dan jumlah sasaran yang dihancurkan, maka dalam konflik kontemporer ukuran tersebut tidak lagi memadai. Radar, jaringan komunikasi, spektrum elektromagnetik, inventori interseptor, throughput sistem pertahanan, serta kemampuan membuat keputusan di bawah tekanan simultan kini merupakan bagian inheren dari medan tempur. Dalam doktrin bersama, joint fire support dipahami sebagai bagian dari joint fires yang membantu komponen udara, darat, maritim, dan operasi khusus untuk bergerak, bermanuver, dan mengendalikan ruang operasi; namun, dalam praktik kontemporer, bantuan tembakan juga harus dibaca sebagai sarana untuk mengubah kondisi operasi lawan, bukan sekadar menghancurkan target individual.

Konflik Iran–Israel–Amerika Serikat memberi ilustrasi yang sangat relevan bagi perubahan tersebut. Pertahanan Israel dibangun secara berlapis: Iron Dome untuk ancaman jarak pendek, David’s Sling untuk ancaman menengah, Arrow-2 dan Arrow-3 untuk ancaman balistik, serta dukungan THAAD dan unsur laut berbasis Aegis. Sumber terbuka juga menunjukkan bahwa sistem-sistem tersebut bekerja dalam pembagian envelope ancaman yang berbeda dan tidak membentuk “perisai absolut.” Pada saat yang sama, ancaman yang dihadapi semakin terpadu, mencakup misil, roket, drone, serta tekanan terhadap domain informasi dan navigasi. Dengan demikian, persoalan utamanya bukan semata mutu tiap komponen, tetapi benturan antara arsitektur pertahanan mahal-berlapis dan arsitektur serangan murah-massal yang berupaya membebani, membelah, dan menguras sistem.

Dalam konteks Indonesia, rangkaian tulisan analitis yang terbit di situs Kodim 0602/Serang selama Maret 2026 telah bergerak ke arah pembacaan yang serupa. Tulisan mengenai keterbatasan integrated air and missile defense (IAMD), kabut digital, perang infrastruktur, tanker udara, dan logistik operasional secara konsisten mengarah pada satu kesimpulan: konflik modern tidak lagi terutama ditentukan oleh keunggulan platform, melainkan oleh kemampuan menyatukan tembakan, informasi, logistik, dan keputusan ke dalam satu rancangan operasi yang koheren. Artikel ini mengintegrasikan garis-garis argumentasi tersebut ke dalam satu kerangka yang lebih formal, impersonal, dan teoretis.

2. State of the Art

Literatur mengenai fires modern dapat dibagi ke dalam tiga rumpun utama. Rumpun pertama ialah literatur doktrinal resmi. JP 3-09 menekankan bahwa joint fire support harus diintegrasikan dan disinkronkan untuk menghasilkan efek yang diinginkan. ADP 6-0 menegaskan bahwa efektivitas komando dan kendali bergantung pada kemampuan mengubah data menjadi informasi yang bernilai bagi keputusan. CJCSM 3108.01 menunjukkan bahwa Joint Fires Element dibentuk untuk mendukung perencanaan, operasi, dan targeting, serta dapat diperluas dengan enablers agar kemampuan yang tepat masuk ke dalam proses operasi. Kekuatan rumpun ini terletak pada kejelasan normatif dan proseduralnya. Kelemahannya, sebagian besar teks tersebut lahir dari asumsi ancaman yang relatif lebih linear dibandingkan medan tempur yang kini dipenuhi saturasi drone, perang biaya interseptor, dan gangguan pada arsitektur data.

Rumpun kedua ialah literatur teoritis level operasional. Vego menempatkan operational art sebagai bidang antara taktik dan strategi; Kress menempatkan operational logistics sebagai bagian inheren dari seni operasi; dan Eikmeier mereformulasi analisis center of gravity dengan pembedaan tegas antara sumber kekuatan, kemampuan kritis, kebutuhan kritis, dan kerentanan kritis. Ketiga pendekatan ini kuat untuk menjelaskan mengapa kemenangan taktis tidak otomatis menghasilkan keberhasilan operasional. Namun, masih terdapat ruang yang belum banyak diisi, yakni bagaimana ketiga kerangka tersebut dijahit secara langsung ke dalam pembacaan Korbantem, serangan saturasi, pertahanan berlapis, ancaman drone murah, dan doktrin targeting kontemporer.

Rumpun ketiga ialah literatur empiris berbasis sumber terbuka. Pelaporan Reuters memotret struktur pertahanan berlapis Israel, penempatan THAAD, penggunaan drone serang satu arah murah, dan meningkatnya gangguan elektronik di sekitar Hormuz. Literatur ini penting untuk menggambarkan fenomena empiris, tetapi cenderung deskriptif. Kontribusi artikel ini terletak pada dorongan untuk mengangkat temuan empiris tersebut ke tingkat konseptual, sehingga perubahan yang dibahas tidak berhenti sebagai gejala teknis, tetapi dibaca sebagai perubahan doktrinal.

3. Kebaruan Penelitian (Novelty)

Kebaruan utama artikel ini terletak pada reinterpretasi Korbantem. Dalam pengertian klasik, Korbantem terutama berfungsi sebagai mekanisme untuk mengatur siapa menembak apa, kapan, dan dari mana, agar mendukung manuver dan mencegah fratricide. Artikel ini mengajukan bahwa dalam perang deep fires modern, definisi tersebut tidak lagi memadai. Korbantem perlu dibaca sebagai arsitektur sinkronisasi efek lintas-domain: gelombang mana yang memancing intersepsi, gelombang mana yang membutakan sensor, gelombang mana yang membelah prioritas, dan gelombang mana yang menjadi pemukul utama. Dengan demikian, Korbantem bergeser dari koordinasi platform menuju koordinasi sebab-akibat operasional.

Kebaruan kedua ialah integrasi tiga lensa teoritis—Vego, Kress, dan Eikmeier—ke dalam satu pembacaan utuh atas perang misil, roket, drone, dan pertahanan berlapis. Vego menjelaskan mengapa fires harus dibaca sebagai instrumen kampanye; Kress menunjukkan bahwa tanker, kapal logistik, dan inventori interseptor bukan elemen belakang, melainkan bagian inti dari seni operasi; Eikmeier membantu membedakan secara lebih presisi mana yang merupakan CoG, mana kebutuhan kritis, dan mana kerentanan kritis. Penggabungan ketiganya menghasilkan pembacaan yang lebih ketat terhadap nilai operasional serangan.

Kebaruan ketiga ialah penempatan drone massal sebagai pengubah struktur logika bantuan tembakan, taktik Artileri Medan, dan targeting. Drone murah dalam jumlah besar tidak lagi dapat diperlakukan sebagai ancaman tambahan. Dalam artikel ini, drone diposisikan sebagai instrumen saturasi, penguras interseptor, dan pembuka jalan bagi gelombang serangan berikutnya. Dengan demikian, fenomena ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan faktor yang memaksa revisi terhadap Korbantem, operational fires, pertahanan berlapis, targeting, dan ekonomi perang.

4. Kerangka Teoretis

Landasan pertama artikel ini ialah operational art menurut Milan Vego. Vego memandang seni operasi sebagai bidang yang menghubungkan tujuan strategis dengan tindakan taktis melalui desain kampanye, ruang, waktu, tujuan, tempo, dan sustainment. Dalam kerangka ini, serangan baru bernilai apabila menghasilkan perubahan kondisi operasi: menutup opsi lawan, memaksa redisposisi, mengganggu tempo, mempercepat kulminasi, atau meruntuhkan kebebasan bertindak. Itu sebabnya nilai suatu aksi tempur tidak dapat dinilai hanya dari jumlah target yang hancur.

Landasan kedua ialah operational logistics menurut Moshe Kress. Kress menegaskan bahwa logistik operasional bukan sekadar dukungan administratif, tetapi bagian dari seni operasi itu sendiri. Daya pukul hanya bermakna selama dapat dipertahankan melalui transportasi, distribusi, pengisian ulang, dan sustainment yang memadai. Karena itu, tanker udara, kapal logistik, inventori interseptor, dan jalur distribusi perlu dipahami sebagai bagian dari struktur daya tempur. Serangan terhadap unsur-unsur tersebut dapat memiliki efek operasional yang sangat besar.

Landasan ketiga ialah analisis center of gravity menurut Dale C. Eikmeier. Pendekatan Eikmeier menegaskan bahwa CoG harus dibedakan dari kemampuan kritis, kebutuhan kritis, dan kerentanan kritis. Dalam konteks artikel ini, radar, tanker, kapal logistik, inventori interseptor, dan relai komunikasi tidak otomatis merupakan CoG. Namun, semuanya dapat menjadi kebutuhan kritis atau kerentanan kritis yang menopang kemampuan lawan untuk terus bertindak. Pembacaan ini menghindarkan analisis dari kekeliruan menyamakan target simbolik atau mahal dengan sasaran yang benar-benar menentukan.

Landasan keempat ialah diskursus mengenai Effects-Based Operations (EBO) dan Effects-Based Approach to Operations (EBAO). Secara konseptual, EBO/EBAO berupaya menggeser fokus operasi dari penghancuran target menuju penciptaan efek terhadap perilaku, kapasitas, dan sistem lawan. Dalam artikel ini, EBO/EBAO diposisikan bukan sebagai teori pengganti, melainkan sebagai bahasa bantu untuk menegaskan bahwa sasaran harus dipilih berdasarkan efek sistemik yang hendak diciptakan, dan bahwa efek tersebut harus tetap ditambatkan pada tujuan kampanye, sustainment, dan ketidakpastian operasional.

5. Metode

Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif-komparatif dengan doctrinal-textual analysis. Tahap pertama ialah identifikasi konsep kunci dalam doktrin resmi—JP 3-09, ADP 6-0, dan CJCSM 3108.01—untuk memetakan bagaimana bantuan tembakan, komando-kendali, dan organisasi joint fires dipahami secara formal. Tahap kedua ialah analisis teori operasional dari Vego, Kress, dan Eikmeier. Tahap ketiga ialah pembacaan sintesis atas sumber terbuka mengenai konflik Iran–Israel–Amerika Serikat, terutama yang berkaitan dengan pertahanan berlapis, drone, misil, dan gangguan pada domain informasi. Tahap keempat ialah triangulasi terhadap korpus tulisan terdahulu di situs Kodim 0602/Serang yang relevan langsung dengan tema IAMD, operational art, perang infrastruktur, kabut digital, dan logistik operasional.

Ruang lingkup artikel dibatasi pada lessons learned doktrinal dan operasional. Sebagian narasi dalam ruang sumber terbuka tidak seluruhnya tervalidasi oleh sumber primer resmi. Oleh karena itu, fokus artikel ini bukan verifikasi detail per kejadian, melainkan penarikan pola yang paling konsisten dan yang paling dapat dipertanggungjawabkan secara doktrinal serta analitis.

6. Hasil

Analisis menghasilkan lima temuan pokok. Pertama, doktrin lama bantuan tembakan tetap relevan sebagai fondasi, tetapi tidak memadai bila digunakan sendiri untuk membaca konflik yang memadukan ancaman kinetik, drone massal, perang biaya interseptor, dan pembutaan sistem. Doktrin resmi menekankan sinkronisasi, dekonfliksi, dan dukungan terhadap manuver; namun medan tempur kontemporer menuntut integrasi lebih dalam dengan informasi, spektrum elektromagnetik, dan arsitektur data.

Kedua, penggunaan drone secara massal mengubah persamaan fires. Ancaman murah dalam jumlah besar tidak hanya menambah volume, tetapi juga membebani radar, memaksa interseptor mahal ditembakkan, dan membuka jalan bagi gelombang berikutnya. Dengan demikian, drone tidak lagi sekadar alat pengintai atau pelengkap, tetapi menjadi bagian inti dari arsitektur saturasi.

Ketiga, Korbantem harus diredefinisi. Dari sekadar pengaturan siapa menembak target mana, Korbantem berubah menjadi mekanisme sinkronisasi efek. Gelombang awal dapat berfungsi sebagai penguras, pembelah prioritas, atau pembuta; gelombang berikutnya baru menjadi pemukul utama. Ini berarti hubungan sebab-akibat antar-gelombang lebih menentukan daripada keterpisahan antar-platform.

Keempat, C2W dan operational enablers menjadi pusat nilai operasional fires modern. Serangan terhadap radar, relai komunikasi, inventori interseptor, tanker, atau kapal logistik dapat menurunkan tempo, merusak kohesi, dan mempersempit kebebasan bertindak lawan.

Kelima, kemenangan taktis tidak identik dengan keberhasilan operasional. Penghantaman target bernilai tinggi belum tentu menyentuh pusat gravitasi lawan bila tidak mengubah keseimbangan kehendak, kapasitas, dan pilihan operasional lawan. Temuan ini konsisten dengan kerangka Vego dan Eikmeier.

7. Diskusi

7.1. Rekonseptualisasi Korbantem: Dari Sinkronisasi Platform ke Sinkronisasi Efek

Dalam formulasi doktrinal klasik, Korbantem berfungsi untuk menyelaraskan berbagai unsur tembakan agar mendukung manuver, mencegah fratricide, dan menjamin keterpaduan waktu serta ruang tembak. Kerangka ini tetap relevan sebagai fondasi. Namun, pada konflik yang ditandai oleh saturasi drone, misil, roket, dan gangguan sistem informasi, pendekatan tersebut menjadi terlalu sempit. Persoalan utamanya tidak lagi berhenti pada “siapa menembak sasaran apa”, tetapi bergeser ke “efek apa yang harus diciptakan terlebih dahulu agar serangan berikutnya memperoleh hasil operasional yang lebih besar”. Dalam konteks ini, Korbantem tidak cukup dipahami sebagai mekanisme pengaturan platform, melainkan harus diredefinisi sebagai mekanisme pengaturan sequence of effects. Doktrin joint fire support memang telah menekankan sinkronisasi dan integrasi, tetapi realitas ancaman kontemporer menunjukkan bahwa yang harus disinkronkan bukan hanya lintasan tembak, melainkan juga urutan pembebanan radar, pengurasan interseptor, pembelahan prioritas, dan pemukul utama. Secara teoretis, pergeseran ini sejalan dengan Vego karena tindakan tembak baru memperoleh nilai penuh ketika ditempatkan dalam rancangan kampanye yang lebih besar.

7.2. Operational Fires: Dari Penghancuran Sasaran ke Perubahan Kondisi Operasi

Pembacaan konvensional atas operational fires kerap mereduksi konsep itu menjadi sekadar tembakan jarak jauh terhadap sasaran penting. Dalam kerangka Vego, nilai operasional sebuah serangan ditentukan oleh kemampuannya mengubah kondisi operasi lawan, bukan oleh seberapa jauh jangkauannya atau seberapa spektakuler ledakannya. Oleh sebab itu, serangan terhadap radar, tanker udara, kapal logistik, inventori interseptor, atau node distribusi data dapat memiliki bobot operasional yang lebih besar daripada penghancuran satu unsur tempur garis depan, selama ia mampu mempersempit kebebasan bertindak lawan, memaksa redisposisi, mempercepat kulminasi, atau mengubah prioritas kampanye. Dalam konteks ini, teori Kress memperkuat argumen bahwa operational fires modern tidak dapat dipisahkan dari logistik operasional, karena daya pukul hanya bermakna selama dapat dipertahankan dan selama lawan dapat didorong ke arah kulminasi.

7.3. C2W sebagai Medium Utama Penciptaan Efek Operasional

Diskusi mengenai C2W tidak lagi dapat direduksi menjadi persoalan electronic warfare semata. Pada sistem pertahanan berlapis, nilai tempur tidak hanya terletak pada mutu tiap platform, tetapi pada kemampuan seluruh komponen untuk saling berbagi data, memprioritaskan ancaman, dan membuat keputusan dalam jendela waktu yang sangat sempit. Serangan terhadap radar antrian, relai komunikasi, navigasi, dan kualitas informasi merupakan serangan terhadap kemampuan sistem untuk tetap menjadi sistem. ADP 6-0 menempatkan pengolahan informasi sebagai inti pengambilan keputusan, sementara CJCSM 3108.01 menekankan pentingnya organisasi joint fires yang memasukkan enablers. Secara teoretis, hal ini dapat dibaca sebagai jembatan antara C2W dan operational art: penurunan mutu orientasi dan distribusi keputusan lawan adalah salah satu cara paling ekonomis untuk menggerus kohesi operasionalnya.

7.4. Implikasi terhadap Taktik Artileri Medan Modern

Perubahan karakter fires modern membawa implikasi langsung terhadap taktik Artileri Medan. Dalam doktrin lama, efektivitas Artileri Medan terutama diukur dari volume tembakan, kepadatan dukungan, ketepatan penghancuran sasaran, dan keterpaduannya dengan manuver satuan darat. Unsur-unsur tersebut tetap relevan, tetapi perkembangan ancaman kontemporer menunjukkan bahwa ukuran itu tidak lagi cukup. Pada medan tempur yang dipenuhi sistem pertahanan berlapis, drone murah dalam jumlah besar, jaringan sensor yang rapat, dan tekanan terhadap siklus keputusan, taktik Artileri Medan harus bergeser dari logika penghancuran sasaran menuju logika penciptaan efek operasional berlapis. Secara teoretis, hal ini sejalan dengan Vego yang menempatkan tindakan tembak dalam bingkai kampanye, bukan sekadar engagement lokal. Secara fungsional, Kress menambahkan bahwa pemilihan amunisi, ritme tembakan, dan sustainment tembakan kini menjadi bagian dari rasionalitas operasional, bukan hanya isu teknis satuan.

Implikasi pertama ialah pergeseran dari logika penghancuran sasaran menuju logika penciptaan kondisi operasi. Artileri Medan modern tidak lagi cukup diarahkan hanya untuk menghancurkan sasaran fisik, tetapi harus disusun untuk memaksa aktivasi sistem lawan, membebani radar, menguras inventori interseptor, menutup ruang manuver, atau memaksa redisposisi unsur pertahanan. Dengan demikian, keberhasilan tembakan tidak lagi semata diukur dari efek balistik langsung, melainkan dari kapasitasnya menciptakan operational leverage.

Implikasi kedua ialah meningkatnya kebutuhan keterikatan Artileri Medan dengan jaringan sensor dan penargetan. Pada situasi di mana sasaran bernilai tinggi bersifat bergerak dan time-sensitive, satuan Artileri Medan tidak lagi dapat bertumpu pada daftar sasaran statis. Ia harus masuk lebih dalam ke dalam jaringan ISR, sehingga kecepatan transformasi data sensor menjadi tembakan menjadi faktor pembeda utama.

Implikasi ketiga ialah perubahan pada arsitektur misi tembakan. Misi tidak lagi ideal dipahami sebagai satu paket tembakan tunggal terhadap satu sasaran, tetapi sebagai urutan berlapis: gelombang awal untuk membebani atau memaksa respons, gelombang berikutnya untuk memecah fokus atau menekan pemulihan, dan gelombang utama untuk menghantam node bernilai operasional tinggi. Dalam pengertian ini, Artileri Medan memasuki logika sequencing kampanye.

Implikasi keempat ialah bergesernya Artileri Medan dari logika kill chain linear ke logika kill web jaringan. Satu sasaran dapat dideteksi oleh satu sensor, dikonfirmasi oleh sensor lain, dibebani lebih dahulu oleh tindakan non-kinetik, lalu dihantam oleh unsur penembak yang berbeda. Dengan demikian, satuan Artileri Medan modern harus dipahami sebagai satu node dalam jaringan pematian yang lebih luas, bukan unit tembak yang berdiri sendiri.

Implikasi kelima ialah meningkatnya arti mobilitas, dispersal, survivability, disiplin emisi, dan kemampuan bertahan di bawah ancaman counter-battery dan drone. Artileri yang kuat tetapi statis akan cepat menjadi sasaran.

Implikasi keenam ialah bergesernya prioritas sasaran ke operational enablers: radar antrian, relai komunikasi, titik peluncuran drone, titik pengisian ulang, simpul distribusi amunisi, dan unsur pendukung pertahanan berlapis. Di sini pendekatan Eikmeier menjadi sangat relevan, karena sasaran tidak lagi dinilai semata berdasarkan bentuk fisiknya, melainkan berdasarkan fungsinya dalam sistem lawan.

Implikasi ketujuh ialah perlunya integrasi yang lebih erat antara Artileri Medan dan C2W. Tembakan bernilai tertinggi bukan selalu yang menghancurkan objek terbesar, tetapi yang menurunkan kualitas komando, kendali, dan orientasi lawan.

Implikasi kedelapan ialah bahwa ekonomi amunisi berubah dari masalah logistik menjadi masalah taktis-operasional; pemilihan amunisi, waktu tembak, dan prioritas sasaran harus makin disiplin agar daya pukul tidak habis pada sasaran murah atau semu.

Implikasi kesembilan ialah meningkatnya kebutuhan untuk tetap dapat beroperasi dalam kondisi degradasi informasi. Dengan demikian, Artileri Medan modern harus bergerak dari identitasnya sebagai alat tembak menuju identitasnya sebagai arsitek efek operasional.

7.5. Implikasi terhadap Doktrin Targeting dan Relevansi EBO/EBAO

Perubahan karakter fires modern membawa implikasi mendasar terhadap doktrin targeting yang terdahulu. Dalam formulasi klasik, targeting didefinisikan sebagai proses memilih dan memprioritaskan sasaran serta mencocokkan respons yang sesuai dengan tujuan operasional dan keterbatasan kemampuan yang tersedia. Formulasi ini tetap valid secara prinsip. Namun, dalam praktik tradisional, penerapannya kerap cenderung platform-sentris, linear, dan berorientasi kuat pada penghancuran fisik sasaran. Pada konflik kontemporer yang ditandai oleh saturasi drone, pertahanan berlapis, pembakaran inventori interseptor, dan gangguan terhadap arsitektur informasi, pendekatan seperti itu tidak lagi cukup untuk menjelaskan rasionalitas pemilihan sasaran secara operasional. Yang perlu diprioritaskan bukan hanya sasaran apa yang dihantam, melainkan fungsi sistem apa yang harus diturunkan, dalam urutan efek seperti apa, dan dengan rasionalitas biaya yang bagaimana. Secara teoretis, pergeseran ini didukung oleh Eikmeier yang menuntut pembedaan ketat antara CoG, kebutuhan kritis, dan kerentanan kritis.

Implikasi pertama ialah bahwa doktrin targeting terdahulu perlu bergeser dari daftar target berbasis kategori menuju targeting berbasis fungsi sistem.

Implikasi kedua ialah bahwa model targeting yang terlalu linear harus diperkaya dengan pendekatan yang lebih jaringan-sentris. Sasaran dapat dideteksi oleh satu sensor, dipastikan oleh sensor lain, dibebani lebih dahulu oleh tindakan non-kinetik, lalu baru dihantam oleh unsur penembak yang berbeda. CJCSM 3108.01 justru menegaskan pentingnya integrasi perencanaan, operasi, targeting, dan enablers lintas fungsi.

Implikasi ketiga ialah bahwa ukuran keberhasilan targeting tidak lagi dapat dibatasi pada battle damage assessment yang berorientasi pada kerusakan fisik, tetapi harus diperluas ke system effects assessment. Dalam kerangka Vego, keberhasilan tindakan tempur hanya bermakna bila memberi kontribusi terhadap perubahan kondisi operasi.

Implikasi keempat berkaitan dengan EBO/EBAO. Pendekatan berbasis efek tetap berguna untuk menegaskan bahwa sasaran harus dipilih berdasarkan efek sistemik yang hendak diciptakan, tetapi tidak boleh diperlakukan sebagai formula deterministik. Agar berguna, EBO/EBAO harus ditambatkan pada tujuan kampanye ala Vego, sustainment ala Kress, dan disiplin analitis ala Eikmeier.

Implikasi kelima ialah bahwa doktrin targeting terdahulu harus menghapus pemisahan kaku antara target fisik dan target informasional. Implikasi keenam ialah meningkatnya arti time-sensitive targeting dan dynamic targeting.

Implikasi ketujuh ialah bahwa doktrin targeting masa depan harus lebih sadar terhadap rasionalitas ekonomi penggunaan senjata. Secara keseluruhan, targeting doctrine perlu bergeser dari penargetan berbasis kategori dan kehancuran fisik menuju penargetan berbasis fungsi sistem, urutan efek, dan rasionalitas operasional-ekonomis.

7.6. Operational Enablers, Kerentanan Kritis, dan Rasionalitas Pemilihan Sasaran

Diskusi tentang sasaran modern tidak dapat dilepaskan dari problem analitis yang diangkat Eikmeier. Banyak sasaran yang tampak besar, mahal, atau simbolik belum tentu merupakan CoG. Sebaliknya, unsur yang secara visual kurang dramatis—misalnya tanker, kapal logistik, relai komunikasi, radar antrian, inventori interseptor—dapat merupakan kebutuhan kritis atau kerentanan kritis yang menopang kemampuan utama lawan. Dengan demikian, pemilihan sasaran harus dilakukan dalam bahasa fungsi, bukan simbolisme. Secara empiris, serangan terhadap operational enablers dapat menambah friksi, menurunkan tempo, dan mempersempit opsi lawan, meskipun tidak selalu menghasilkan kerusakan visual yang dramatis. Secara teoretis, hal ini menegaskan validitas pendekatan Eikmeier dalam perang deep fires modern dan sekaligus memperkuat argumen Vego bahwa nilai tindakan tempur ditentukan oleh efek kampanyenya, bukan oleh impresi taktis semata.

8. Implikasi Kebijakan bagi Perubahan Doktrin Perang Gabungan/Perang Darat

Implikasi pertama ialah perlunya revisi konseptual Korbantem dalam doktrin perang gabungan dan perang darat. Korbantem tidak lagi cukup diposisikan sebagai fungsi pengaturan senjata pendukung manuver, tetapi harus dirumuskan sebagai mekanisme integrasi efek lintas-domain yang mencakup unsur kinetik, elektromagnetik, informasi, siber, dan sustainment.

Implikasi kedua ialah perlunya perubahan dalam analisis target perang darat. Doktrin dan latihan perlu lebih ketat membedakan CoG dari kebutuhan kritis dan kerentanan kritis. Dengan kacamata Eikmeier, sasaran seperti radar antrian, relai komunikasi, tanker, kapal logistik, dan inventori interseptor harus diberi bobot analitis yang lebih tinggi karena nilai operasionalnya dapat melampaui nilai simbolik platform tempur utama.

Implikasi ketiga ialah bahwa pertahanan berlapis harus dipikirkan ulang sebagai sistem yang harus tahan kehilangan fungsi parsial. Pengembangan doktrin gabungan perlu menekankan redundancy, prosedur degradasi bertahap, disiplin prioritas, dan manajemen inventori interseptor.

Implikasi keempat ialah bahwa logistik operasional harus diposisikan sejajar dengan manuver dan fires. Sustainment merupakan bagian dari seni operasi. Karena itu, perlindungan operational enablers perlu dimasukkan sebagai bagian dari desain operasi sejak awal.

Implikasi kelima ialah bahwa pendidikan militer dan latihan gabungan harus mengadopsi skenario saturasi drone-misil sebagai baseline, bukan pengecualian. Latihan perlu mensimulasikan serangan serentak lintas sumbu, pembakaran inventori interseptor, kehilangan node komunikasi, gangguan navigasi, dan tekanan terhadap logistik.

Implikasi keenam ialah bahwa doktrin gabungan perlu lebih eksplisit mengintegrasikan C2W dan operasi siber ke dalam bantuan tembakan. Pengalaman konflik terkini menunjukkan bahwa pembutaan sensor, gangguan navigasi, dan pemutusan data sering menjadi pendahulu yang menentukan efektivitas gelombang tembakan berikutnya. Karena itu, dikotomi lama antara tembakan dan gangguan sistem perlu dihapus.

9. Kesimpulan

Perang deep fires modern telah bergerak jauh dari paradigma bantuan tembakan klasik. Korbantem tidak lagi cukup dipahami sebagai pengaturan tembakan antar-platform, tetapi harus diredefinisi sebagai koordinasi efek yang mencakup misil, roket, drone, spektrum elektromagnetik, logistik, dan ritme keputusan. Operational fires hanya bernilai bila ia mengubah kondisi operasi lawan, sedangkan C2W harus dipandang sebagai unsur sentral dalam penciptaan efek tersebut. Teori Vego, Kress, dan Eikmeier memberi alat analisis yang lebih memadai untuk memahami bagaimana aksi taktis terhubung dengan tujuan kampanye, bagaimana sustainment menopang daya pukul, dan bagaimana nilai sasaran ditentukan oleh fungsinya dalam sistem lawan. Dengan demikian, lessons learned utamanya bukan semata bahwa ancaman menjadi lebih canggih, tetapi bahwa perang kini semakin ditentukan oleh pihak yang paling mampu menyatukan tembakan, informasi, logistik, dan keputusan ke dalam satu rancangan operasi yang koheren.

Serang, 5 April 2026

-Oke02-

Referensi

ADP 6-0. Mission Command: Command and Control of Army Forces. Washington, DC: Headquarters, Department of the Army, 2019.

CJCSM 3108.01. Joint Fires Element. Washington, DC: Chairman of the Joint Chiefs of Staff, 2021.

JP 3-09. Joint Fire Support. Washington, DC: Joint Chiefs of Staff.

Kress, Moshe. Operational Logistics: The Art and Science of Sustaining Military Operations.

Reuters. “What are Israel’s Iron Dome and Arrow missile defences?”

Reuters Graphics. “Cheap drones are reshaping the war in the sky.”

Vego, Milan. Operational Art: Theory and Practice. Routledge, 2025.

Eikmeier, Dale C. “Redefining the Center of Gravity.”

Eikmeier, Dale C. “Operational Design and the Center of Gravity: Two Steps Forward, One Step Back.” Joint Force Quarterly 68 (2013).

Komentar

Format: 08123456789 atau +628123456789
0 / 5000

Memuat pertanyaan...

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui penyimpanan nama, nomor WhatsApp, dan alamat IP untuk moderasi.