Jalan dibuka, rumah diperbaiki, air bersih disediakan. Namun di balik capaian 100 persen TMMD 127 Kodim 0602/Serang, yang sesungguhnya dibangun lebih dari sekadar infrastruktur desa: fondasi pertahanan wilayah, ekonomi kerakyatan, dan kemanunggalan TNI-rakyat.
Oleh: Kolonel Arm Oke Kistiyanto
Pada 11 Maret 2026, pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-127 Tahun Anggaran 2026 di Desa Sukamenak, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, dinyatakan selesai 100 persen. Dalam laporan resmi, capaian itu tersusun rapi: pembukaan jalan utama sepanjang 800 meter, pengerasan jalan di beberapa titik, penyelesaian hotmix, pembangunan gorong-gorong, tembok penahan tanah, peningkatan jalan lingkungan, rehabilitasi mushola, pembangunan rumah tidak layak huni, pembuatan jamban dan septic tank, penyediaan sumur bor, penanaman pohon, penguatan ketahanan pangan, penanganan stunting, serta pelaksanaan penuh seluruh penyuluhan nonfisik.
Namun laporan administratif selalu memiliki keterbatasan bawaan. Ia sangat teliti dalam mencatat apa yang selesai, tetapi tidak selalu cukup menjelaskan apa yang sesungguhnya menguat setelah program ditutup. Persentase 100 persen menandai berakhirnya pekerjaan, tetapi tidak otomatis menerangkan perubahan yang lebih dalam: apakah desa menjadi lebih kuat, masyarakat menjadi lebih tangguh, ekonomi rakyat menjadi lebih hidup, dan negara menjadi lebih hadir dalam kehidupan sehari-hari warganya.
Di titik inilah TMMD di Sukamenak layak dibaca lebih jauh. Program ini bukan sekadar rangkaian pekerjaan fisik yang berhasil dituntaskan tepat waktu. Ia merupakan bentuk intervensi teritorial negara yang bekerja langsung di lapisan paling dasar kehidupan nasional: desa. Dan di desa itulah, sesungguhnya, kekuatan pertahanan negara dan daya tahan ekonomi rakyat bertumpu.
Lapis pertama yang paling tampak tentu saja pembangunan infrastruktur jalan. Sasaran fisik mencakup pembukaan jalan utama sepanjang 800 meter dengan lebar 3,5 meter, pengerasan jalan titik pertama sepanjang 800 meter x 3,5 meter, pengerasan jalan titik kedua sepanjang 315 meter x 3 meter, serta seluruh pekerjaan hotmix yang pada 11 Maret 2026 telah selesai sepenuhnya, termasuk tambahan volume 50 meter x 3 meter sebagai over prestasi. Tiga titik gorong-gorong masing-masing sepanjang 5 meter diselesaikan. Tembok penahan tanah sepanjang 120 meter dituntaskan. Peningkatan jalan link pada dua titik juga rampung seluruhnya.
Dalam pembacaan umum, capaian ini sering berhenti sebagai keberhasilan teknis pembangunan desa. Tetapi dalam perspektif yang lebih strategis, infrastruktur seperti ini sesungguhnya menyentuh inti pertahanan wilayah. Wilayah yang aksesnya terbuka adalah wilayah yang lebih mudah digerakkan, lebih mudah dijangkau, lebih cepat ditolong ketika terjadi bencana, dan lebih siap menopang mobilitas sosial maupun logistik. Konektivitas desa bukan hanya urusan ekonomi, melainkan juga unsur dasar dalam daya tahan wilayah.
Dalam konsep pertahanan negara, terutama pertahanan semesta, ruang desa bukanlah ruang pinggiran. Desa adalah basis sosial, ekonomi, dan moral bangsa. Jika desa terisolasi, lemah infrastrukturnya, rapuh sosialnya, dan tertinggal kapasitasnya, maka ketahanan nasional pada tingkat paling bawah ikut melemah. Sebaliknya, bila desa terhubung dengan baik, tertata, dan memiliki solidaritas sosial yang kuat, maka negara memperoleh fondasi pertahanan yang lebih kokoh. Karena itu, pembukaan jalan di Sukamenak tidak tepat dibaca hanya sebagai pembangunan akses. Ia adalah penguatan urat nadi wilayah.
Dimensi ekonominya juga sangat jelas. Jalan yang lebih baik mengurangi hambatan gerak hasil pertanian, memperlancar distribusi barang kebutuhan pokok, mempersingkat waktu tempuh warga, serta membuka hubungan yang lebih lancar antara kampung, pasar, pusat pelayanan, dan titik-titik kegiatan ekonomi lain. Dalam ekonomi kerakyatan, masalah utama sering bukan semata ketiadaan produksi, tetapi mahalnya biaya gerak. Ongkos distribusi, sulitnya transportasi, dan lambatnya akses kerap menjadi penghambat utama daya tumbuh ekonomi rakyat.
Karena itu, infrastruktur desa yang dibangun TMMD sesungguhnya adalah intervensi langsung pada ekonomi kerakyatan. Ia menurunkan friksi yang selama ini membebani warga. Petani lebih mudah mengalirkan hasil panen. Pelaku usaha kecil lebih mudah menjangkau pasar. Biaya mobilitas turun. Akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan membaik. Aktivitas produktif warga menjadi lebih mungkin berkembang karena ruang hidup mereka tidak lagi dibatasi oleh hambatan fisik yang sama beratnya seperti sebelumnya.
Tetapi kekuatan TMMD di Sukamenak justru terletak pada kenyataan bahwa program ini tidak berhenti pada jalan. Ia bergerak lebih jauh, memasuki wilayah kebutuhan dasar masyarakat yang paling menentukan kualitas hidup dan daya tahan rumah tangga. Sebanyak 12 unit rumah tidak layak huni diselesaikan, terdiri atas 7 unit sasaran pokok dan 5 unit over prestasi. Sepuluh unit jamban dan septic tank dibangun. Lima unit sumur bor dituntaskan 100 persen. Dua mushola direhabilitasi.
Bagi pembangunan biasa, ini dapat dianggap paket pelengkap. Namun bagi ketahanan nasional yang bertumpu pada rakyat, inilah justru simpul-simpul dasarnya. Rumah layak huni bukan sekadar bangunan, tetapi ruang minimum bagi martabat, kesehatan, dan stabilitas keluarga. Sanitasi yang baik bukan hanya soal kebersihan, melainkan benteng awal melawan penyakit yang menggerus produktivitas rakyat. Air bersih bukan hanya fasilitas, tetapi prasyarat dasar bagi kehidupan yang sehat, tertib, dan berkelanjutan. Mushola bukan hanya bangunan ibadah, tetapi ruang kohesi sosial, pembinaan moral, dan titik temu komunitas.
Dengan kata lain, TMMD di Sukamenak sedang mengurangi kerentanan struktural masyarakat desa. Dan ketika kerentanan sosial berkurang, daya tahan nasional justru meningkat. Negara yang kuat tidak hanya ditandai oleh alutsista atau postur militer formal, tetapi juga oleh masyarakat yang sehat, rumah tangga yang stabil, lingkungan sosial yang solid, dan ruang desa yang mampu menopang kehidupan secara layak. Di sini terlihat jelas bahwa pembangunan teritorial dan pertahanan negara tidak berdiri terpisah. Keduanya saling mengisi.
Program unggulan yang menyertai kegiatan ini memperlihatkan arah yang sama. Penanaman sekitar 250 pohon telah selesai 100 persen. Program ketahanan pangan sekitar 2 hektare terlaksana. Penanganan stunting sekitar 200 paket direalisasikan. Sekitar 300 Al-Qurโan dibagikan. Sekilas, semua ini tampak seperti komponen tambahan di luar pekerjaan utama. Namun dalam perspektif pembangunan nasional yang berorientasi ketahanan, justru di sinilah kualitas TMMD menjadi lebih utuh.
Ketahanan pangan pada tingkat desa merupakan fondasi ekonomi kerakyatan. Desa yang mampu menguatkan basis pangannya akan lebih tahan menghadapi gejolak harga, gangguan distribusi, maupun tekanan ekonomi eksternal. Dalam situasi nasional apa pun, desa yang memiliki kemampuan produksi dan dukungan pangan lokal adalah desa yang lebih stabil. Penanganan stunting menyentuh dimensi generasi masa depan. Ini bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan investasi jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia. Penanaman pohon menyasar daya dukung ekologis desa, yang juga penting bagi keberlanjutan hidup masyarakat. Sedangkan penguatan dimensi keagamaan dan sosial menopang ketertiban moral serta kohesi komunal.
Jika dibaca secara utuh, TMMD di Sukamenak bekerja pada satu garis besar: memperkuat desa sebagai basis ketahanan nasional dari bawah. Ia membuka akses fisik, memperbaiki kualitas hidup, mendukung ekonomi rakyat, menutup kerentanan sosial, dan menumbuhkan ikatan kebersamaan. Dalam kerangka itu, program ini memiliki nilai strategis yang jauh melebihi ukuran proyek.
Dimensi nonfisik memperkuat kesimpulan tersebut. Seluruh materi penyuluhan dilaksanakan 100 persen, mulai dari bela negara, wawasan kebangsaan, kesehatan, pertanian, pendidikan, hukum dan kamtibmas, bahaya narkoba, keagamaan, keluarga berencana, lingkungan hidup, pelayanan publik dan kependudukan, bahaya radikalisme dan terorisme, pencegahan stunting, mitigasi bencana, pengenalan digital, peran desa dalam kamtibmas di era KUHP, pembinaan UMKM, digital marketing, hingga pengolahan sampah.
Sering kali pembangunan terjebak pada asumsi bahwa setelah infrastruktur dibangun, manfaat akan datang dengan sendirinya. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Infrastruktur memerlukan masyarakat yang mampu mengelola, memelihara, dan mengoptimalkannya. Jalan memerlukan tata sosial yang tertib. Sanitasi memerlukan perilaku hidup sehat. Ekonomi rakyat memerlukan kapasitas usaha, literasi pasar, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi. Ketahanan wilayah memerlukan warga yang sadar hukum, sadar ancaman, dan memiliki semangat kebangsaan.
Karena itu, penyuluhan dalam TMMD harus dipahami sebagai pembangunan kapasitas nasional pada level warga. Ia membentuk infrastruktur lunak: kesadaran, pengetahuan, disiplin sosial, kemampuan adaptif, dan mental kebangsaan. Inilah yang membedakan TMMD dari proyek fisik biasa. Program ini tidak hanya membangun apa yang bisa dilihat, tetapi juga memperkuat apa yang menopang kehidupan masyarakat dari dalam.
Pelibatan unsur dalam TMMD 127 Kodim 0602/Serang juga memberi pesan yang kuat. Program ini melibatkan 117 personel TNI AD, 5 personel TNI AL, 20 personel Polri, 8 unsur pemerintah daerah, 2 unsur pemerintah desa, dan 100 orang masyarakat. Komposisi ini menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak dijalankan dengan pola sektoral yang kaku, melainkan dengan semangat gotong royong yang terorganisasi.
Di titik ini, makna kemanunggalan TNI-rakyat tampak sangat nyata. Kemanunggalan bukan slogan seremonial. Ia lahir ketika prajurit hadir, bekerja, berkeringat, dan menyelesaikan persoalan bersama rakyat. Ia tumbuh ketika masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku dalam pembangunan. Ia menguat ketika hubungan antara negara dan warga dibangun bukan semata melalui kebijakan, tetapi melalui kerja nyata yang menyentuh kebutuhan hidup sehari-hari.
Dalam konteks pertahanan negara, kemanunggalan TNI-rakyat adalah inti kekuatan nasional yang tidak mudah digantikan oleh apa pun. Negara dapat memiliki kekuatan keras, tetapi tanpa basis sosial yang kuat di tingkat rakyat, daya tahannya akan rapuh. Sebaliknya, desa-desa yang memiliki kepercayaan kepada negara, solidaritas sosial yang tinggi, serta hubungan yang erat dengan aparat teritorial akan menjadi benteng yang kokoh bagi stabilitas nasional. Dari sudut inilah, TMMD memiliki nilai pertahanan yang sangat strategis.
Tetapi sebagaimana semua program pembangunan, tantangan sebenarnya justru dimulai setelah pekerjaan selesai. Output 100 persen baru menandai selesainya tahap konstruksi dan pelaksanaan. Outcome yang sesungguhnya baru akan teruji setelah itu: apakah jalan dipelihara, apakah sanitasi dimanfaatkan dengan benar, apakah sumur bor dikelola berkelanjutan, apakah ekonomi rakyat benar-benar bergerak, apakah penyuluhan berubah menjadi perilaku, dan apakah semangat gotong royong tetap hidup setelah penutupan program.
Di sinilah harapan inti dari TMMD di Sukamenak harus diletakkan. Harapannya bukan semata agar hasil fisik tetap berdiri, melainkan agar seluruh hasil itu menjadi fondasi penguatan ketahanan nasional di desa. Jalan yang terbuka harus menjadi jalan bagi tumbuhnya ekonomi kerakyatan. Rumah yang diperbaiki harus menjadi dasar keluarga yang lebih sehat dan stabil. Sanitasi dan air bersih harus menjadi benteng kesehatan masyarakat. Ketahanan pangan harus berkembang menjadi daya tahan ekonomi desa. Penyuluhan harus tumbuh menjadi kesadaran kolektif. Dan seluruh proses itu harus terus dipersatukan oleh kemanunggalan TNI-rakyat.
Harapan ini penting, sebab ketahanan nasional tidak dibangun hanya dari pusat. Ia dibangun dari desa-desa yang kuat. Desa yang kuat adalah desa yang rakyatnya sehat, ekonominya bergerak, lingkungannya terjaga, warganya kompak, dan hubungannya dengan negara berlangsung erat dan saling percaya. Dalam kerangka itu, TMMD bukanlah kegiatan tambahan di pinggiran pembangunan nasional. Ia justru berada di inti upaya memperkuat bangsa dari bawah.
Karena itu, sesudah TMMD selesai, yang sesungguhnya perlu dijaga adalah momentum persatuan dan kesadaran kolektif yang telah terbentuk. Infrastruktur dapat dibangun sekali, tetapi ketahanan desa harus dipelihara terus-menerus. Program dapat ditutup, tetapi kemanunggalan tidak boleh ikut berakhir. Negara boleh hadir lewat TMMD dalam jangka waktu tertentu, tetapi spirit gotong royong, bela negara, dan ekonomi kerakyatan harus terus hidup di tengah masyarakat.
Jika itu terjaga, maka TMMD 127 di Sukamenak tidak hanya akan dikenang sebagai program yang selesai 100 persen. Ia akan dikenang sebagai momen ketika pembangunan desa dipakai untuk memperkuat pertahanan negara, menghidupkan ekonomi rakyat, dan meneguhkan kembali bahwa kekuatan bangsa pada akhirnya bertumpu pada desa yang tangguh dan pada kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Komentar